Dorong Ekonomi Syariah, Jateng Fokus Kembangkan Wisata Ramah Muslim

2 hours ago 3

Pengunjung berjalan di depan pintu gerbang rumah kuno di Karangturi, Lasem, Rembang, Jawa Tengah, Ahad (19/10/2025). Menurut data Yayasan Lasem Heritage, terdapat sekitar 243 bangunan kuno berarsitektur akulturasi Tiongkok, Eropa, dan Jawa yang dibangun pada akhir abad ke-18 hingga awal abad ke-20 di Kecamatan Lasem, yang kini telah ditetapkan sebagai cagar budaya tingkat kabupaten sebagai upaya melestarikan kawasan tersebut sekaligus mengembangkannya sebagai destinasi wisata berbasis pelestarian sejarah dan budaya.

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG — Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) membidik pengembangan pariwisata ramah Muslim pada 2027, sejalan dengan penguatan sektor ekonomi syariah sebagai salah satu pilar pertumbuhan daerah.

Asisten Perekonomian dan Pembangunan Provinsi Jateng Hanung Triyono mengatakan, pengembangan tersebut sesuai dengan visi-misi gubernur untuk mendorong pariwisata berkelanjutan dan ekonomi syariah.

“Harapannya pada 2027 pariwisata kita sudah masuk kategori ramah Muslim dan berjalan optimal,” ujar Hanung usai Rapat Koordinasi Pariwisata Ramah Muslim di Kantor Pemprov Jateng, Kamis (12/2).

Menurut Hanung, saat ini Pemprov mulai menyiapkan berbagai persyaratan agar Jawa Tengah dapat menyandang predikat destinasi ramah Muslim.

Direktur Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah (KDEKS) Jateng Nyata Nugraha menjelaskan, konsep yang dikembangkan adalah pariwisata ramah Muslim, bukan pariwisata halal.

Ia menegaskan, dalam pariwisata halal seluruh produk dan layanan harus halal. Sementara pada konsep ramah Muslim, pelaku usaha masih diperbolehkan menjual produk non-halal sepanjang tidak tercampur dengan produk halal dan tetap menyediakan fasilitas yang mendukung kebutuhan wisatawan Muslim.

“Tujuannya adalah menyambut wisatawan Muslim dengan menyediakan makanan halal bersertifikat, fasilitas ibadah yang layak, serta layanan yang sesuai,” kata Nyata.

Sejumlah persiapan yang dilakukan antara lain penguatan halal value chain, termasuk sertifikasi halal pada produk makanan dan minuman, serta penyediaan fasilitas pendukung seperti musala yang bersih dan penunjuk arah kiblat di penginapan.

Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin sebelumnya menyatakan pengembangan pariwisata ramah Muslim juga mempertimbangkan potensi wisatawan mancanegara, termasuk dari Timur Tengah, yang memiliki preferensi terhadap destinasi ramah Muslim.

Beberapa daerah seperti Wonosobo, Temanggung, dan Karanganyar disebut telah lebih dulu mengembangkan konsep tersebut. Pemprov menargetkan penguatan promosi dan standardisasi agar daya tarik wisata Jawa Tengah semakin meningkat pada 2027.

Read Entire Article
Politics | | | |