Eks PM Akui Inggris Curangi Iran dalam Kontrak Pembelian Tank Chieftain

2 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Perdana Menteri (PM) Inggris periode 2019-2022 Boris Johnson mengakui, pemerintahan Inggris pernah menipu Iran. Hal itu terjadi pada era 1970-an ketika Inggris mencurangi Iran dalam kontrak pembelian tank tempur utama (MBT) Chieftain.

Pengakuan itu disampaikan Johnson saat menjadi bintang tamu acara Black Box (Shasha) yang digawangi jurnalis Arab, Ammar Taqi pada Februari 2026. Dalam acara tanya jawab tersebut, Johnson secara blak-blakan menceritakan perjalanan karier politiknya, termasuk kebijakan pemerintah Inggris di kawasan Teluk.

Hal itu bermula ketika Shah Iran Mohammad Reza Pahlevi meneken pembelian 1.750 unit Chieftain dari Inggris. Di bawah rezim Monarki, pembelian tank modern pada masanya itu menelan kontrak senilai 400 juta poundsterling atau sekitar Rp 9 triliun pada 1976.

Pada awal 1979, Inggris sempat mengirimkan tank utama tersebut ke Iran sebanyak 185 unit. Sebulan kemudian, terjadi Revolusi Iran. Rezim berganti. Monarki runtuh digantikan pemerintahan Republik Islam.

Di bawah komando Ayatollah Khomeini, Iran yang sebelumnya dekat dengan Barat, termasuk Inggris, berganti haluan. Inggris bertindak curang dengan tidak memenuhi kontrak mengirimkan ribuan tank ke Iran.

Bahkan, Inggris dilaporkan menjual Chieftain ke Irak di bawah Presiden Saddam Hussein. Kala itu, Inggris merupakan sekutu presiden Irak tersebut. Di kemudian hari, Irak menggunakan tank itu untuk berperang melawan Iran.

Johnson mengatakan, perselisihan tersebut membuat Inggris memiliki kewajiban moral yang jelas untuk mengembalikan uang milik Iran. "Yang benar adalah Iran memiliki kasus terhadap kita. Yang berkaitan dengan utang atas beberapa tank yang telah kita jual kepada Shah Iran pada tahun 1979," ucap mantan pemimpin Partai Konservatif tersebut.

Jika dihitung inflasi dan bunga bank, nilai 400 juta poundsterling sekarang setara dengan 10 miliar poundsterling atau sekitar Rp 226 triliun. Iran pada 2008 menang di arbitrase yang putusannya memerintahkan Inggris untuk mengembalikan uang tersebut.

Masalah itu akhirnya diselesaikan Johnson pada era pemerintahannya. Inggris pada 2022 menyalurkan dana 393 juta poundsterling atau sekitar Rp 8,9 triliun ke Iran. Sebagai bagian kesepakatan, pemerintah Iran membebaskan penulis Inggris-Iran Nazanin Zaghari dan Ratcliffe, yang telah ditahan otoritas setempat sejak 2016.

"Jadi ini sangat rumit, tetapi sebelum revolusi, Inggris telah menjual banyak tank Chieftain kepada Shah, yang merupakan jenis tank Inggris yang besar, dan saya pikir total yang dibayarkan Shah Iran untuk tank-tank itu adalah sekitar 400 juta poundsterling," kata Johnson dikutip dari ABP Live, Ahad (22/3/2026).

Read Entire Article
Politics | | | |