REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Peneliti di Asia Research Institute of the National University of Singapore, Bosman Batubara, mengungkapkan, salah satu penyebab utama penurunan muka tanah di kawasan Pantai Utara (Pantura) Semarang, Jawa Tengah, adalah akibat ekstraksi air tanah oleh industri. Menurutnya, penurunan tersebut bisa lebih parah dibandingkan yang tercatat Stasiun Pengamatan Penurunan Permukaan Tanah (SPPPT).
"Industri adalah salah satu pengguna air tanah dalam paling besar di Pantura Semarang. Sementara salah satu penyebab terbesar amblesan tanah adalah ekstraksi air tanah dalam," kata Bosman ketika diwawancara, Rabu (3/6/2026).
Menurutnya, aktivitas industri dan penurunan muka tanah di kawasan Pantura Semarang memiliki hubungan linear. "Jadi makin banyak industri yang memakai air tanah dalam, mengekstrak, maka secara logis, pertimbangan hidrologi dan batuan, segala macam, maka amblesan tanah juga akan semakin parah. Itu maksud saya linear," ucapnya.
Bosman dan timnya pernah menerbitkan buku berjudul "Maleh Dadi Segoro (Malah Jadi Lautan)" pada 2020. Buku tersebut meneliti tentang krisis sosial ekologis di kawasan pesisir Semarang-Demak, termasuk soal penurunan muka tanah dan banjir rob. Dalam buku tersebut disampaikan pula kritik atas proyek Tol Semarang-Demak yang di dalamnya termasuk pembangunan tanggul laut.
Menurut Bosman, penurunan muka tanah di kawasan Pantura Semarang bisa saja lebih parah dibandingkan yang tercatat SPPPT atau yang lebih dikenal dengan sebutan Patok Pantau. Dia mengatakan, hal itu telah didokumentasikan dalam buku berjudul "Semarang Lemahe Ambles" yang ditulis Bagas Yusuf Kausan c.s.
"Kalau kita baca buku Bagas dkk., yang mendeteksi amblesan tanah dengan menggali pengalaman sehari-hari orang, justru memperlihatkan amblesan tanah di beberapa tempat itu lebih parah dibandingkan dengan stasiun-stasiun pengukuran itu. Karena bisa 20-30 sentimeter per tahun, tapi stasiun-stasiun itu (mencatat) mungkin sekitar 10 sentimeter," ucapnya.
Namun Bosman mengingatkan angka penurunan muka tanah itu diperoleh dari pengalaman sehari-hari warga di Pantura Semarang. "Artinya juga tergantung metodenya," katanya.
Menurut Bosman, penanganan penurunan muka tanah di Pantura Semarang akan bergantung pada kebijakan pemerintah, termasuk dalam mengelola ekstraksi air tanah oleh industri di wilayah pesisir. "Semakin tidak baik tata kelolanya, pada saat bersamaan makin banyak industri yang mengekstraksi air tanah, maka akuitard akan semakin banyak rongganya yang kosong dan amblasan tanah akan semakin parah," ucapnya.
"Ditambah tentu saja industri itu sendiri adalah infrastruktur-infrastruktur yang membikin beban di daerah-daerah tertentu, yang juga faktor yang tidak kalah penting dalam menyebabkan penurunan tanah ini," tambah Bosman.

4 hours ago
20

















































