Sasar Turis Malaysia dan Singapura, Warga Bukit Peramun Kenalkan Ekowisata Berbasis Komunitas

4 hours ago 17

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Selama ini, Pulau Belitung begitu identik dengan keindahan wisata pantainya. Namun, masyarakat yang tergabung dalam Kelompok Hutan Kemasyarakatan (HKm) Arsel di Desa Bukit Peramun mencoba mendobrak stigma tersebut dengan menawarkan alternatif lain, yakni ekowisata hutan digital berbasis komunitas.

Upaya warga lokal dalam merawat dan mengemas potensi hutan tersebut kini mulai dilirik pasar internasional. Melalui program familiarization trip yang diinisiasi oleh Bakti BCA bersama Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo), sejumlah pelaku industri pariwisata asal Singapura dan Malaysia diboyong untuk melihat langsung keunikan Bukit Peramun pada Ahad (31/5/2026).

Langkah ini dirancang untuk membuka keran kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) lebih lebar lagi. Berdasarkan data pengelola, tren pelancong asing ke bukit ini sebenarnya terus merangkak naik, dari 387 orang pada 2023 menjadi 485 orang pada 2025. Sementara itu, kunjungan wisatawan domestik juga melonjak dari 1.356 orang pada 2024 menjadi 1.648 orang pada tahun lalu.

EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, menuturkan bahwa kolaborasi ini sengaja mempertemukan langsung para pengelola desa dengan agen travel luar negeri. Target utamanya adalah mengenalkan keunikan Bukit Peramun yang sukses memadukan keasrian alam dengan sentuhan teknologi digital.

"Kami percaya desa ini memiliki potensi tinggi di pasar internasional apabila didukung dengan akses dan promosi yang tepat," ujar Hera.

Ia menambahkan, program ini tidak hanya bertujuan mendongkrak angka kunjungan wisman, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi warga setempat tanpa mengesampingkan aspek konservasi lingkungan.

Dalam kunjungan tersebut, para pelaku wisata dari negara tetangga diajak merasakan langsung pengalaman membelah hutan melalui jalur trekking, mengenal tanaman herbal endemik, hingga melakukan aksi nyata berupa adopsi pohon. Keunikan lain yang dipamerkan adalah aplikasi digital Virtual Assistance & Kenali Pohon (KePo), sebuah inovasi lokal yang membantu pelancong mengenali jenis flora melalui gawai mereka.

Petualangan para agen travel ini ditutup dengan menikmati panorama matahari terbenam dari puncak bukit di Batu Kembar dan Batu Ampar, sembari mencicipi kuliner lokal melalui tradisi Makan Bedulang. Saat malam tiba, mereka juga diajak mengamati tarsius, satwa endemik berukuran mini yang menjadi ikon ekowisata Belitung.

Melalui pengalaman langsung ini, para pelaku industri pariwisata Malaysia dan Singapura diharapkan bisa menyusun paket wisata yang menarik bagi turis di negara mereka, sekaligus memperkuat posisi Bukit Peramun sebagai destinasi ekowisata unggulan di kancah global.

Read Entire Article
Politics | | | |