Emas Alami Level Penurunan Harga Pekanan Terparah Sejak 1983

9 hours ago 8

REPUBLIKA.CO.ID, ISTANBUL -- Harga emas makin jatuh ke bawah level terendah sejak Desember 2025 pada hari Senin (23/3/2026), di tengah situasi Timur Tengah yang semakin memanas. Ini jadi kejatuhan pertama kalinya ke level di bawah 4.200 dolar AS per troy ons.

Harga emas bergerak di kisaran 4.110 dolar AS hingga 4.536 dolar AS sepanjang Senin, turun 7,8 persen dibandingkan hari Jumat. Pekan lalu, harga emas mencatat penurunan mingguan terbesar sejak 1983, dengan penurunan lebih dari 10 persen.

Pada Januari, harga emas sempat mencapai level tertinggi sepanjang masa mendekati 5.600 dolar AS. Sejak puncaknya tersebut, harga telah turun sekitar 26 persen. Sementara harga perak per ons juga turun 8,3 persen menjadi 62,2 dolar AS.

Harga diproyeksi masih tertekan dalam jangka pendek, tetapi beberapa analis tetap optimistis untuk jangka panjang. Harga emas pada hari Jumat itu menghapus seluruh kenaikan dalam dua bulan terakhir.

Padahal emas yang biasanya dianggap sebagai aset lindung nilai saat ketidakpastian ekonomi. Menurut laporan CNN pada Sabtu waktu setempat, emas turun 11 persen dalam sepekan mencatat penurunan mingguan terbesar sejak 1983.

Analis China menyebut pasar saat ini mengalami “pukulan ganda” berupa guncangan likuiditas dan ekspektasi kebijakan yang lebih ketat. Dalam kondisi fluktuasi tajam seperti ini, investor disarankan tetap tenang dan berhati-hati.

Dilansir Global Times, Penurunan harga emas pada 1983 dipicu oleh negara-negara penghasil minyak yang menjual emas untuk mendapatkan devisa di tengah turunnya harga minyak, yaitu guncangan dari sisi pasokan. Namun, kejatuhan saat ini didorong oleh pengelolaan ekspektasi oleh Federal Reserve AS, yang meningkatkan biaya memegang emas dan pada dasarnya menekan permintaan.

Analis menekankan bahwa kesamaan antara dua kejatuhan ini adalah bahwa penentu harga jangka pendek emas bukanlah sentimen safe haven, melainkan suku bunga riil dan kinerja dolar AS. Kejatuhan kali ini merupakan koreksi dari perdagangan yang terlalu padat pada ekspektasi penurunan suku bunga, sekaligus penyesuaian rasional terhadap lingkungan suku bunga riil.

Data dari penyedia data keuangan Wind menunjukkan harga emas spot sempat mencapai 5.598,75 dolar AS per ons pada 29 Januari 2026. Kenaikan kumulatifnya capai 72,45 persen hanya dalam sedikit lebih dari enam bulan dibandingkan harga penutupan 30 Juni 2025.

Namun, sejak awal Maret tahun ini, harga emas spot menunjukkan tren penurunan, seiring perubahan situasi geopolitik, menurut portal berita berbasis di Shanghai, The Paper.

Read Entire Article
Politics | | | |