Geopolitik Bergejolak, Mentan Amran Pastikan Stok Pangan Nasional Aman

2 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan ketersediaan pangan nasional dalam kondisi aman meski situasi geopolitik global bergejolak. Ia menyebut stok beras, protein hewani, hingga pupuk berada pada level mencukupi untuk kebutuhan dalam negeri.

Amran menyampaikan hal itu usai melepas ekspor produk unggas dan turunannya ke Singapura, Jepang, dan Timor Leste, Selasa (3/3/2026). Ia memaparkan stok beras nasional terus meningkat dan diproyeksikan mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah.

“Pangan kita lebih dari cukup. Ingat, pangan yang menjadi inti adalah untuk Indonesia, karbohidrat dan beras,” kata Mentan.

Ia merinci, stok beras di gudang saat ini mencapai 3,67 juta ton dan diperkirakan menyentuh 3,7 juta ton dalam waktu dekat. Pemerintah menargetkan stok menembus 4 juta ton pada pertengahan bulan dan 5 juta ton pada April.

Kapasitas gudang tersedia sekitar 3 juta ton. Pemerintah menambah sewa gudang hingga 2 juta ton untuk mengantisipasi lonjakan produksi. “Dan tanpa impor,” ujar Amran, menegaskan penguatan stok tersebut.

Ia mengakui gejolak di Timur Tengah berpotensi memengaruhi perdagangan dan harga bahan baku. Kementerian Pertanian mengantisipasi kemungkinan kenaikan harga pupuk dan komoditas lain dengan memastikan pasokan dalam negeri tetap terjaga.

“Kita harus pastikan dengan kondisi geopolitik yang tidak menentu, hampir pasti harga bahan baku bisa naik, termasuk pupuk. Makanya kita antisipasi, pangan kita cukup, protein kita cukup, Indonesia aman,” kata Amran.

Ia menambahkan, produksi pupuk tidak terhambat dan pasokan bahkan meningkat dibanding tahun sebelumnya. Kenaikan pasokan pupuk pada Januari–Februari disebut mencapai sekitar 40 persen. “Tidak terhambat, aman, pupuk sudah masuk,” ujarnya.

Di tengah isu impor 1.000 ton beras khusus, Amran menilai volumenya sangat kecil dibanding stok nasional yang mendekati 4 juta ton. Pemerintah justru menyiapkan ekspor beras 2.280 ton dalam waktu dekat.

Ia meminta publik melihat perbandingan tersebut secara rasional. Impor itu disebut beras khusus untuk kebutuhan tertentu seperti wisatawan dan investor, bukan beras konsumsi utama masyarakat.

Read Entire Article
Politics | | | |