Geopolitik Perut Manusia

1 hour ago 3

Oleh: Achmad Tshofawie, Kordinator ECOFITRAH; Pemerhati Geopolitik

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di balik sejarah peradaban manusia, ada satu kebenaran sederhana yang sering terlupakan: bangsa yang mampu  memberi makan rakyatnya akan  bertahan; bangsa yang gagal melakukannya akan rapuh. Senjata, teknologi, dan kekuatan militer memang penting. Namun tanpa pangan, semuanya kehilangan makna.

Sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa kelaparan sering lebih mematikan daripada peluru. Banyak perang tidak hanya dimenangkan oleh strategi militer, tetapi oleh kemampuan logistik pangan. Dalam bahasa sederhana: tentara yang lapar tidak bisa bertempur lama. Karena itu, pembicaraan tentang pangan sesungguhnya bukan sekadar soal pertanian atau ekonomi. Ia menyentuh martabat bangsa, kesehatan warga, bahkan stabilitas geopolitik.

Sejak awal sejarah manusia, pangan selalu menjadi fondasi peradaban. Tanpa produksi pangan yang stabil, tidak akan ada kota, tidak ada negara, tidak ada ilmu pengetahuan. Peradaban besar lahir dari sistem pangan yang kuat. Mesir kuno berkembang karena kesuburan lembah Sungai Nil. Peradaban Tiongkok tumbuh di lembah Sungai Kuning. Nusantara sendiri sejak lama dikenal sebagai wilayah yang kaya sumber pangan tropis.

Namun di era modern, hubungan manusia dengan pangan sering menjadi kabur. Banyak masyarakat urban yang hidup jauh dari ladang dan sawah,serta ekosistem perairan.Makanan hadir di meja makan tanpa mereka tahu dari mana asalnya.Padahal di balik setiap butir nasi, setiap buah, setiap sayur, sepotong ikan;ada keringat petani-nelayan yang bekerja di bawah terik matahari.

Kelaparan dalam Sejarah Perang

Dalam sejarah militer, pangan sering menjadi faktor penentu.Ketika Napoleon Bonaparte menyerbu Rusia pada tahun 1812, ia membawa lebih dari setengah juta tentara. Namun pasukan sebesar itu tidak mampu bertahan lama. Rusia menggunakan strategi bumi hangus: ladang dibakar, gudang makanan dihancurkan. Pasukan Napoleon akhirnya kalah bukan hanya karena pertempuran, tetapi karena kelaparan dan kekurangan logistik.

Kisah serupa terjadi berulang kali dalam sejarah. Tentara yang tidak memiliki suplai pangan akan kehilangan daya tempur. Karena itu para ahli strategi militer sering mengatakan:"Tentara berjalan dengan perutnya". Artinya, kemampuan militer bergantung pada ketersediaan makanan.

Pada abad ke-20, pangan tidak lagi sekadar urusan ladang dan dapur. Ia naik kelas menjadi instrumen geopolitik. Salah satu tokoh yang sering dikaitkan dengan pandangan ini adalah Henry Kissinger, arsitek kebijakan luar negeri Amerika Serikat pada era Perang Dingin. Dalam berbagai diskursus geopolitik, ia dikenal dengan ungkapan yang sering dikutip: “Control oil and you control nations. Control food and you control people.” (Kendalikan minyak maka Anda mengendalikan negara. Kendalikan pangan maka Anda mengendalikan manusia). Ungkapan ini—terlepas dari perdebatan akademik tentang konteksnya—mencerminkan sebuah realitas: pangan dapat menjadi alat kekuasaan global.

Negara yang menguasai produksi dan distribusi pangan dunia memiliki pengaruh besar terhadap negara yang bergantung pada impor.

Di sisi lain, dari benua Afrika muncul suara yang berlawanan arah. Ia datang dari Thomas Sankara, pemimpin revolusioner Burkina Faso yang dijuluki “Che Guevara dari Afrika”. Sankara melihat persoalan pangan bukan dari sudut kekuasaan global, tetapi dari sudut kemerdekaan bangsa. Ia pernah berkata tegas: “He who feeds you controls you.” — “Siapa yang memberi makanmu, dialah yang mengendalikanmu.” Bagi Sankara, bangsa yang menggantungkan pangan pada impor akan selalu berada dalam posisi lemah. Karena itu ia mendorong rakyatnya untuk menanam pangan lokal, memperkuat petani, dan membangun kemandirian pertanian. Dalam beberapa tahun pemerintahannya, produksi pangan Burkina Faso trennya meningkat signifikan dan tingkat ketergantungan pada bantuan pangan menurun.

Dua tokoh ini seperti mewakili dua paradigma besar dalam geopolitik pangan dunia. Paradigma pertama melihat pangan sebagai alat dominasi: menguasai pangan berarti menguasai manusia. Paradigma kedua melihat pangan sebagai alat pembebasan: memproduksi pangan sendiri berarti menjaga kemerdekaan bangsa. Pertarungan dua paradigma ini masih berlangsung hingga hari ini—di ladang-ladang petani, di pasar pangan global, dan dalam kebijakan pertanian negara-negara di dunia.

Pada akhirnya, sejarah akan membuktikan satu hal sederhana: bangsa yang mampu memberi makan rakyatnya sendiri akan berdiri lebih tegak di panggung dunia. Sebab pangan bukan hanya soal perut yang kenyang, tetapi juga soal martabat, kedaulatan, dan masa depan sebuah bangsa.Sejarah juga mencatat,era swa sembada beras kembali kita raih di era sekarang.Sesuatu yang mesti kita syukuri.

Tanaman Survival: Pangan dalam Situasi Krisis

Sejarah juga menunjukkan bahwa dalam situasi krisis, manusia sering diselamatkan oleh tanaman yang sederhana namun tangguh.Kentang menyelamatkan banyak masyarakat Eropa dari kelaparan pada abad ke-18. Singkong menjadi pangan penyelamat di banyak wilayah tropis karena dapat tumbuh di tanah miskin dan tahan kekeringan. Ubi jalar, jagung, dan berbagai tanaman lokal sering menjadi cadangan pangan ketika sistem pangan modern terganggu.

Di wilayah tropis, tanaman seperti sukun, labu, pisang, dan berbagai umbi sebenarnya memiliki potensi besar sebagai pangan tangguh (resilient food).

Tanaman-tanaman ini memiliki karakter penting:mudah tumbuh,produktivitas tinggi,tidak memerlukan teknologi mahal,dapat diusahakan oleh masyarakat desa.Dalam perspektif ekologi, tanaman seperti ini sangat selaras dengan fitrah alam tropis.

Menariknya, Al-Qur’an banyak sekali berbicara tentang pangan dan pertanian. Dalam satu ayat Allah berfirman:

فَلْيَنظُرِ الإِنسَانُ إِلَىٰ طَعَامِهِ

“Maka hendaklah manusia memperhatikan makanannya.” (QS ‘Abasa: 24)

Ayat ini mengajak manusia untuk merenungkan asal-usul makanan yang mereka konsumsi.Al-Qur’an kemudian menjelaskan prosesnya: hujan turun, tanah terbelah, lalu tumbuh berbagai tanaman yang menjadi sumber pangan manusia.Pesan ayat ini sangat jelas: makanan bukan sekadar komoditas ekonomi, tetapi bagian dari tanda kebesaran Allah di alam.

Kisah Nabi Yunus dan Tanaman Penyelamat

Ada kisah menarik dalam Al-Qur’an tentang Nabi Yunus setelah keluar dari perut ikan.

Allah berfirman:

وَأَنبَتْنَا عَلَيْهِ شَجَرَةً مِّن يَقْطِينٍ

“Kami tumbuhkan untuknya tanaman dari jenis yaqtiin.” (QS Ash-Shaffat: 146)

Para ulama tafsir seperti Ibnu Katsir menjelaskan bahwa yaqtiin merujuk pada tanaman dari keluarga labu-labuan.

Tanaman ini tumbuh cepat, daunnya besar sehingga memberi naungan, dan buahnya bisa dimakan.Dalam situasi lemah setelah pengalaman berat di laut, Allah memberi Nabi Yunus tanaman yang tepat untuk bertahan hidup. Kisah ini mengandung hikmah ekologis yang dalam: alam menyediakan solusi bagi manusia yang memahami dan memanfaatkannya.

Hubungan antara pangan dan kekuatan negara juga berkaitan dengan kesehatan masyarakat. Pepatah lama mengatakan: “You are what you eat.” Apa yang kita makan akan mempengaruhi kesehatan tubuh dan pikiran kita.

Masyarakat yang memiliki akses pada makanan bergizi cenderung lebih sehat, lebih produktif, dan lebih kuat secara sosial.Sebaliknya, masyarakat yang mengalami malnutrisi menghadapi berbagai masalah:daya tahan tubuh rendah,produktivitas kerja menurun, risiko penyakit meningkat.

Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa mempengaruhi kekuatan ekonomi dan stabilitas negara.Karena itu pangan bergizi bukan hanya isu kesehatan, tetapi juga isu pembangunan nasional.

Negara Kuat Berawal dari Rakyat Sehat

Negara yang kuat tidak hanya diukur dari kekuatan militer atau besarnya produk domestik bruto. Negara yang kuat adalah negara yang memiliki rakyat sehat dan produktif.Dan rakyat sehat tidak mungkin lahir tanpa sistem pangan yang baik.

Inilah sebabnya banyak negara sangat menyadari dan serius dalam kebijakan pertanian mereka. Mereka memahami bahwa ketahanan pangan adalah bagian dari ketahanan nasional.Dalam konteks ini, konsep kedaulatan pangan  menjadi sangat penting. Artinya, bangsa memiliki kemampuan untuk memproduksi makanan sendiri sesuai dengan ekologi dan budaya lokal.

Namun dalam banyak masyarakat modern, ada ironi besar. Profesi yang paling penting bagi kelangsungan hidup manusia—petani dan nelayan—sering justru kurang dihargai.Padahal mereka adalah penjaga kehidupan . Tanpa mereka, tidak ada makanan di meja makan kita.Dalam Islam, kerja yang menghasilkan manfaat bagi manusia sangat dihargai. Rasulullah SAW bersabda:

"Tidaklah seorang Muslim menanam tanaman lalu dimakan manusia, burung, atau hewan, kecuali itu menjadi sedekah baginya." (Hadis riwayat Bukhari). Hadis ini menunjukkan bahwa kegiatan menanam dan bertani (budidaya) memiliki nilai spiritual. Ia bukan sekadar aktivitas ekonomi, tetapi juga amal kebaikan yang memberi manfaat bagi makhluk lain.

Menghormati Petani-Nelayan sebagai Pilar Bangsa

Karena itu masyarakat yang bijak seharusnya memberi penghargaan tinggi kepada petani-nelayan.Penghargaan itu tidak hanya berupa pujian, tetapi juga kebijakan nyata:harga produk pangan yang adil,akses teknologi yang tepat guna,perlindungan lahan pertanian (dalam arti luas), dukungan bagi generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian.

Tanpa kebijakan seperti ini, profesi petani-nelayan bisa semakin ditinggalkan. Jika itu terjadi, negara akan semakin bergantung pada impor pangan.Ketergantungan seperti itu dapat menjadi kerentanan strategis dalam situasi krisis global.

Negara-negara tropis sebenarnya memiliki potensi pangan yang sangat besar. Keragaman hayati yang tinggi memungkinkan berbagai jenis tanaman pangan tumbuh dengan baik.Indonesia misalnya memiliki banyak sumber pangan:padi,jagung,singkong, sagu, sukun, pisang, berbagai umbi lokal, beragam jenis kacang-kacangan, dst. Demikian pula produk hasil perairan laut/tawar.

Keanekaragaman ini adalah kekayaan ekologis yang luar biasa.Jika dikelola dengan baik, sistem pangan yang beragam akan membuat masyarakat lebih tahan  terhadap perubahan iklim, gangguan pasar global, maupun situasi krisis.

Pangan, Kemandirian dan Martabat

Pada akhirnya, diskusi tentang pangan kembali pada satu pertanyaan mendasar: apakah sebuah bangsa mampu memberi makan rakyatnya sendiri? Sejarah menunjukkan bahwa bangsa yang kehilangan kendali atas sistem pangannya sering kehilangan sebagian kedaulatannya. Sebaliknya, bangsa yang mampu mengelola sumber pangannya dengan bijak memiliki fondasi yang kuat untuk menghadapi berbagai tantangan.Karena itu pembangunan pangan tidak boleh dipandang sebagai sektor pinggiran. Ia adalah suatu pilar utama peradaban.

Di tengah dunia yang semakin kompleks, kita sering terpesona oleh teknologi tinggi, kecerdasan buatan, dan berbagai inovasi digital.Namun di balik semua kemajuan itu, ada satu kenyataan yang tidak berubah sejak ribuan tahun lalu: manusia tetap membutuhkan makanan.

Setiap butir padi yang tumbuh di sawah, setiap buah yang matang di kebun, setiap umbi yang dipanen dari tanah, setiap produk biota air yang dipanen dari ekosistem perairan—semuanya adalah bagian dari rantai kehidupan yang menopang peradaban.

Maka menghargai pangan berarti menghargai kehidupan. Menghargai petani berarti menghargai masa depan.Dan membangun sistem pangan yang sehat berarti menyiapkan masyarakat yang kuat dan negara yang tangguh.Sebab pada akhirnya,bangsa yang mampu memberi makan rakyatnya adalah bangsa yang mampu menjaga kemerdekaannya.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Politics | | | |