REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Di Madiun, seorang kolonel berdiri di hadapan anak buahnya. Kolonel Arm Untoro Hariyanto, Danrem 081/DSJ, memberi perintah yang sederhana namun membawa gelombang panjang: bersihkan negeri. Ia menyebutnya Gerakan ASRI, Aman, Sehat, Resik, Indah.
Sebuah nama yang lembut, tapi misinya tegas. Aksi bersih-bersih massal yang dilakukan serentak dan berkelanjutan, menyasar fasilitas umum, lokasi wisata, pasar, sungai. Bukan sekadar memungut sampah, tetapi menumbuhkan kesadaran bahwa hidup bersih adalah budaya yang harus dirawat.
“Lingkungan yang bersih akan berdampak langsung pada kesehatan masyarakat serta mendukung kenyamanan dan keamanan wilayah,” kata Untoro.
Ia menegaskan, Gerakan ASRI bukan acara seremonial. Ia adalah komitmen. Harus rutin. Harus konsisten. Harus menjadi denyut nadi gotong royong yang selama ini menjadi warisan leluhur.
Di ujung timur Jawa, di Situbondo, gerakan yang sama menjalar ke pesisir. Ratusan personel gabungan TNI-Polri dan ASN membersihkan Pantai Pelabuhan Panarukan. Sampah plastik, ranting, dan limbah rumah tangga yang menumpuk di dermaga lama diangkut satu per satu. Kasat Polairud Polres Situbondo AKP Gede Sukarmadiyasa tak ingin aksi ini hanya berhenti di pantai.
“Budaya bersih bisa menjadi kebiasaan sehari-hari masyarakat Situbondo, khususnya di kawasan pesisir,” katanya. Ia percaya, pantai yang bersih bukan hanya soal estetika, tetapi juga masa depan pariwisata dan kesehatan warga.
Di Tangerang, gerakan ini tak lagi sekadar memungut sampah, tetapi menanam harapan. Dinas Lingkungan Hidup Kota Tangerang menanam 4.000 tumbuhan kana, pohon bambu, dan tanaman asoka di sisi utara TPA Rawa Kucing. Bambu dipilih karena akarnya kuat menahan tanah, mengurangi bau, dan mencegah longsor. Di balik timbunan sampah, mereka merancang paru-paru kota.
Kepala DLH Kota Tangerang Wawan Fauzi menyebut penghijauan ini sebagai perluasan ruang terbuka hijau. Sementara Wali Kota Sachrudin memberi pesan yang menggema: “Menanam hari ini, kita memanen kehidupan untuk anak cucu nanti.” Pohon, katanya, adalah investasi jangka panjang. Ia lalu memerintahkan camat, lurah, hingga RT/RW untuk menggerakkan warga. Bukan sekadar menanam, tapi merawat.
Di Ternate, jauh di ujung timur Indonesia, gerusan ombak Pantai Kalumata membawa sampah sekaligus kesadaran baru. Anggota Satbrimob Polda Maluku Utara turun ke pesisir bersama warga. Bukan dengan senjata, tetapi sapu dan karung. Kombes Pol Wahyu Istanto Bram W menyebut kehadiran polisi di sini bukan hanya untuk keamanan, tetapi juga sebagai garda terdepan perubahan sosial.
“Melalui langkah sederhana, seperti tidak membuang sampah sembarangan, masyarakat dapat berkontribusi besar dalam mewujudkan lingkungan yang sehat dan lestari,” katanya. Pantai Kalumata, yang selama ini menjadi ruang riuh wisata, pagi itu berubah menjadi ruang sunyi yang dirawat.
Gerakan ASRI adalah nama kecil dari agenda besar. Ia dicanangkan Presiden Prabowo Subianto sebagai gerakan nasional, tetapi dihidupkan oleh tangan-tangan di daerah. Dari Madiun, Situbondo, Tangerang, hingga Ternate, alurnya sama: TNI, Polri, pemerintah daerah, dan masyarakat bergerak bersama. Bukan karena perintah, tetapi karena sadar.
Bahwa sampah bukan hanya soal kotor, tapi soal malu. Bahwa pohon bukan hanya soal hijau, tapi soal napas. Bahwa gotong royong bukan hanya soal tradisi, tapi soal kelangsungan.
Di tengah hiruk-pikuk pembangunan dan hiruk-pikuk politik, Gerakan ASRI adalah pengingat lembut: negeri ini adalah rumah, dan kita semua yang tinggal di dalamnya bertugas merawat. Bukan untuk hari ini saja. Tapi untuk generasi yang belum lahir, yang kelak akan bertanya apakah kita cukup peduli.
Maka, biar sapu terus digerakkan. Biar bibit terus ditanam. Biar laut dan sungai kembali jernih. Karena Indonesia yang asri tak akan lahir dari mimpi, tapi dari kerja. Kerja bersama. Kerja yang tak pernah lelah.
sumber : Antara

2 hours ago
4











































