Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf (kiri) berbincang dengan petugas Haji saat pembukaan pendidikan dan latihan Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 2026 di Asrama Haji, Jakarta, Ahad (11/1/2026). Sebanyak 1.636 PPIH Arab Saudi 2026 mulai menjalani diklat selama 20 hari dengan dibekali berbagai keterampilan mulai dari keahlian administratif hingga bahasa arab guna mengoptimalkan layanan haji 2026.
REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA — Guru Besar Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Prof Abdul Mujib mengemukakan bahwa jamaah yang melaksanakan ibadah haji di Tanah Suci rentan mengalami stres akibat perubahan lingkungan.
Menurut Mujib, perubahan drastis dari lingkungan rumah yang serba mandiri ke lingkungan asrama yang serba komunal di Arab Saudi menjadi pemicu utama stres.
"Karena dengan perubahan waktu, perubahan sosial, perubahan segalanya itu, dengan kondisi yang awalnya serba mandiri di rumah, kemudian harus dengan akomodasi bersama, itu akan menjadi masalah," ujar Mujib setelah menjadi pemateri diklat calon Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) 1447 H/2026 M di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Senin(19/1/2026).
Oleh karena itu, lanjutnya, para petugas haji harus memiliki asumsi dasar bahwa jamaah akan bermasalah secara psikologis. Asumsi itu penting bukan untuk menakut-nakuti, melainkan agar petugas memiliki kesiagaan penuh sejak awal.
Faktor pemicu stres di Tanah Suci sangat beragam, dari perbedaan iklim yang ekstrem, perbedaan budaya, hingga perubahan pola hidup sehari-hari.
Ia mencontohkan jamaah yang di rumahnya terbiasa memiliki privasi tinggi, tiba-tiba harus tidur sekamar dengan orang lain dengan karakter berbeda, berbagi kamar mandi, dan makan dengan menu yang mungkin tidak sesuai selera.
Menurut Mujib, akumulasi dari hal-hal kecil tersebut bisa memicu ledakan emosi atau depresi jika tidak ditangani dengan baik.
sumber : Antara

13 hours ago
7















































