Harga Minyak Melesat, Trump: Hanya Secuil untuk Sebuah Perdamaian Dunia

15 hours ago 10

Presiden AS Donald J Trump menyampaikan pidato kenegaraan pada sesi gabungan Kongres di House Chamber of the US Capitol di Washington, DC, AS, 24 Februari 2026.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Harga minyak mentah melesat di atas 100 dolar AS per barel pada perdagangan Senin (9/3/2026). Presiden Amerika Serikat Donald Trump menilai lonjakan tajam tersebut hanya bersifat sementara dan merupakan harga kecil yang harus dibayar demi keamanan global.

Dalam unggahan di platform media sosial Truth Social, Trump menyatakan kenaikan harga minyak saat ini akan terkoreksi setelah ancaman nuklir dari Iran berhasil diatasi.

“Dalam jangka pendek harga minyak memang naik, tetapi akan turun dengan cepat setelah ancaman nuklir Iran dihancurkan. Ini adalah harga yang sangat kecil untuk keselamatan dan perdamaian Amerika Serikat dan dunia,” tulis Trump.

Ia juga menegaskan bahwa pihak yang menilai situasi tersebut secara berbeda tidak memahami konteks keamanan global.

"HANYA ORANG BODOH YANG BERPIKIR BERBEDA," katanya.

Lonjakan harga minyak terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global. Salah satu faktor utama adalah risiko terhadap jalur distribusi minyak strategis dunia, yakni Strait of Hormuz.

Selat tersebut merupakan jalur utama bagi sekitar seperlima perdagangan minyak global. Ketidakstabilan di kawasan tersebut kerap langsung memicu lonjakan harga karena pasar khawatir pasokan minyak akan terganggu.

Kenaikan harga minyak saat ini tercatat sebagai yang terbesar sejak pecahnya Russian invasion of Ukraine, yang sebelumnya juga sempat mengguncang pasar energi global. Para analis energi menilai arah harga minyak dalam waktu dekat akan sangat bergantung pada perkembangan konflik di kawasan tersebut.

Dilansir BBC, para analis memprediksi kenaikan harga bisa mencapai 150 dolar AS per barel pada akhir Maret. Jika ketegangan mereda, harga minyak berpotensi turun. Namun jika konflik meluas atau mengganggu produksi maupun distribusi minyak, tekanan harga dapat bertahan lebih lama.

Lonjakan harga energi sendiri berpotensi menimbulkan dampak lanjutan bagi perekonomian global, mulai dari peningkatan inflasi hingga kenaikan biaya transportasi dan logistik di berbagai negara.

Read Entire Article
Politics | | | |