Himbara Optimistis Kenaikan BI Rate tak Hambat Pertumbuhan Kredit

4 hours ago 9

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank-bank yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) menilai kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) menjadi 5,5 persen tidak akan menghambat pertumbuhan kredit. Perbankan pelat merah meyakini kondisi likuiditas, permodalan, dan kualitas aset yang masih kuat akan menjaga fungsi intermediasi tetap berjalan di tengah gejolak ekonomi global.

Corporate Secretary BRI Dhanny mengatakan keputusan BI menaikkan BI Rate merupakan bagian dari upaya menjaga stabilitas makroekonomi nasional, khususnya nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya volatilitas pasar keuangan global.

Menurut dia, fundamental industri perbankan nasional saat ini masih kuat. “BRI meyakini fundamental industri perbankan nasional tetap kuat, ditopang oleh permodalan yang memadai, likuiditas yang terjaga, serta kualitas aset yang resilien,” ujar Dhanny kepada Republika, Rabu (10/6/2026).

Sebagai bank yang berfokus pada segmen UMKM, BRI akan terus memantau perkembangan pasar dan pergerakan suku bunga serta memastikan fungsi intermediasi tetap berjalan optimal guna mendukung aktivitas ekonomi nasional.

Senada, Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo mengatakan kenaikan BI Rate merupakan langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional dan memperkuat kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia.

“Stabilitas yang terjaga menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan pertumbuhan sektor riil maupun industri perbankan,” kata Okki.

Menurut dia, stabilitas makroekonomi menjadi prasyarat penting bagi perbankan untuk tetap menjalankan fungsi intermediasi secara sehat dan berkelanjutan. Karena itu, BNI berkomitmen menjaga penyaluran pembiayaan secara selektif, produktif, dan prudent, meski tetap mencermati potensi dampak kenaikan suku bunga terhadap permintaan kredit.

Pandangan serupa disampaikan Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini. Menurut dia, keputusan BI mencerminkan ketegasan bank sentral dalam menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan eksternal, termasuk konflik di Timur Tengah dan arus keluar investasi portofolio asing.

“Stabilitas yang terjaga merupakan fondasi penting bagi keberlanjutan aktivitas ekonomi, kepercayaan pelaku usaha dan masyarakat, serta penciptaan ruang pertumbuhan yang sehat dalam jangka panjang,” ujar Novita.

Ia menegaskan perbankan tetap memiliki peran penting dalam menjaga kelancaran aktivitas ekonomi melalui fungsi intermediasi dan layanan transaksi yang andal. Karena itu, Bank Mandiri optimistis dapat terus mendukung kebutuhan pembiayaan pelaku usaha, UMKM, dan masyarakat.

Sementara itu, Corporate Secretary BSI Wisnu Sunandar menilai kebijakan BI tetap memberikan ruang bagi industri perbankan untuk tumbuh secara berkelanjutan. Menurut dia, BSI memiliki kekuatan pada struktur dana murah yang didukung tabungan haji dan tabungan berbasis akad wadiah.

“Fungsi intermediasi yang baik melalui optimalisasi dana murah diharapkan mampu memberikan multiplier effect terhadap penyaluran pembiayaan yang kompetitif sehingga mampu menjangkau nasabah yang lebih luas,” ujar Wisnu.

Dari sisi ekonomi makro, Chief Economist BTN Myrdal Gunarto menilai kenaikan BI Rate merupakan langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas rupiah dan mengendalikan tekanan inflasi di tengah ketidakpastian global.

Dengan dukungan investasi dan intermediasi perbankan yang tetap terjaga, BTN memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia masih dapat mencapai sekitar 5,2 persen pada tahun ini.

Read Entire Article
Politics | | | |