Ketua Umum Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) Nasaruddin Umar.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kontribusi ekonomi halal terhadap perekonomian nasional terus menguat. Pada kuartal III 2025, Halal Value Chain (HVC) menyumbang 27,34 persen atau setara Rp 4.832 triliun terhadap produk domestik bruto (PDB), mencerminkan peran sektor halal yang semakin besar dalam struktur ekonomi Indonesia.
Ketua Umum Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) sekaligus Menteri Agama RI Nasaruddin Umar mengatakan ekonomi halal menjadi salah satu penggerak penting perekonomian nasional. “Ekonomi halal merupakan salah satu penggerak penting perekonomian Indonesia. Dengan basis pasar yang besar dan terintegrasi dari hulu ke hilir, ekonomi halal mampu mendorong pertumbuhan, memperluas akses pembiayaan, serta meningkatkan daya saing Indonesia dalam rantai nilai global,” ujarnya dalam keterangan, Kamis (5/2/2026).
Selain sektor riil, kinerja keuangan syariah nasional juga menunjukkan tren positif. Pangsa pasar keuangan syariah Indonesia tercatat mencapai 30,3 persen dari total aset keuangan nasional per Oktober 2025. Capaian tersebut menempatkan Indonesia sebagai salah satu destinasi investasi halal terbesar di dunia.
Nasaruddin menyebut meningkatnya kepercayaan investor global tercermin dari aktivitas investasi halal. Sepanjang 2023, tercatat sekitar 40 transaksi investasi halal dengan nilai mencapai 1,6 miliar dolar AS.
"Hal ini mencerminkan meningkatnya kepercayaan investor global terhadap ekosistem ekonomi halal Indonesia serta besarnya potensi kolaborasi lintas negara,” katanya.
Dari sisi daya saing global, Indonesia juga mempertahankan posisi ketiga dunia dalam Global Islamic Economy Indicator (GIEI) 2024/2025, di bawah Malaysia dan Arab Saudi. Menurut Nasaruddin, capaian tersebut menunjukkan penguatan ekosistem ekonomi Islam nasional yang semakin terintegrasi dengan sektor riil.
Ia menambahkan, penguatan ekonomi halal ke depan akan diarahkan melalui perluasan kerja sama internasional dan diplomasi ekonomi. Indonesia akan memanfaatkan perannya sebagai Ketua D-8 periode 2026–2027 untuk memperkuat posisi dalam rantai nilai global produk halal. “Indonesia tidak sekadar menjadi pemain dalam ekonomi Islam global, kita ingin menjadi mitra yang menghubungkan pasar, memfasilitasi investasi, dan membuka peluang baru bagi kemakmuran bersama bangsa-bangsa Islam dan masyarakat global secara luas,” ujar Nasaruddin.

2 hours ago
4














































