Idul Fitri Pertama di Madinah: Ketika Hari Raya Lahir dari Kesederhanaan Nabi

3 hours ago 2

Oleh : Azis Subekti, Anggota DPR RI Fraksi Partai Gerindra.

REPUBLIKA.CO.ID, Pada suatu pagi di Madinah, setelah sebulan penuh manusia menahan diri dari lapar, dahaga, dan segala yang membatalkan kesabaran, umat Islam menyambut sebuah hari yang sebelumnya tidak pernah mereka kenal. Hari itu bukan sekadar penutup Ramadan. Ia adalah kelahiran sebuah kesadaran baru dalam sejarah manusia beriman.

Dalam catatan sirah yang dihimpun oleh Safiur Rahman al-Mubarakpuri dalam kitab Ar-Raheeq Al-Makhtum, Idul Fitri pertama muncul pada tahun kedua hijriah. Pada tahun itulah puasa Ramadan diwajibkan, zakat fitrah ditetapkan, dan umat Islam diajarkan bahwa kegembiraan tidak boleh berdiri sendiri—ia harus ditopang oleh keadilan sosial.

Nabi Muhammad ﷺ datang ke Madinah dan menemukan masyarakat memiliki dua hari pesta yang diwariskan dari masa sebelum Islam. Bukan kegembiraan itu yang beliau koreksi, melainkan arah kegembiraan itu sendiri. Nabi bersabda bahwa Allah telah mengganti dua hari pesta tersebut dengan dua hari yang lebih baik: Idul Fitri dan Idul Adha. Sejak saat itu, kegembiraan tidak lagi berangkat dari sekadar tradisi, tetapi dari ketaatan yang melahirkan syukur.

Idul Fitri pertama tidak lahir dari kemewahan. Ia lahir dari kesederhanaan yang sadar. Sebelum manusia keluar menuju lapangan untuk shalat hari raya, Nabi menetapkan sesuatu yang sangat mendasar: zakat fitrah. Ia bukan sekadar kewajiban administratif agama, melainkan koreksi moral terhadap kemungkinan cacat dalam ibadah manusia.

Puasa mungkin telah dijalankan, tetapi manusia tetap makhluk yang mudah tergelincir: ada kata yang melukai, ada amarah yang lolos, ada kesabaran yang retak. Zakat fitrah hadir sebagai penyucian ibadah itu.

Namun Nabi tidak berhenti pada dimensi spiritual. Zakat fitrah juga memiliki tujuan sosial yang terang: agar orang miskin tidak menjadi penonton dalam kegembiraan umat. Pada hari raya pertama itu, Islam menegaskan sesuatu yang sangat penting bagi sejarah peradaban: kebahagiaan tidak boleh eksklusif. Ia harus dibagi agar menjadi berkah.

Karena itu Nabi mengajak seluruh masyarakat keluar menuju lapangan. Tidak ada azan. Tidak ada iqamah. Hanya manusia-manusia yang berkumpul dalam kesadaran yang sama: mereka baru saja melewati latihan pengendalian diri selama satu bulan penuh.

Bahkan perempuan dianjurkan hadir. Mereka yang sedang haid tetap diminta datang untuk mendengarkan khutbah dan merasakan suasana hari raya. Sejak awal, Idul Fitri bukan sekadar ritual privat antara manusia dan Tuhan. Ia adalah peristiwa sosial yang mempersatukan masyarakat.

Anggota DPR RI Fraksi Partai Gerindra Azis Subekti menyampaikan ucapan Selamat Idul Fitri untuk pembaca Republika.

Jika kita membaca peristiwa itu dengan jernih, Idul Fitri pertama sesungguhnya memiliki dua wajah sekaligus.

Wajah pertama adalah koreksi syariat. Islam tidak hanya memerintahkan ibadah, tetapi juga menyediakan mekanisme untuk menyempurnakan ibadah itu. Zakat fitrah adalah pengingat bahwa kesalehan manusia tidak pernah sepenuhnya sempurna tanpa penyucian dan kerendahan hati.

Wajah kedua adalah rekonstruksi sosial. Nabi tidak membangun masyarakat hanya dengan khutbah moral, tetapi dengan sistem yang memastikan kegembiraan bersama. Hari raya tidak boleh menciptakan jarak antara yang kenyang dan yang lapar.

Itulah sebabnya Idul Fitri pertama bukan sekadar momentum religius. Ia adalah arsitektur sosial Islam.

Di sana kita melihat bagaimana agama bekerja bukan hanya pada langit spiritual manusia, tetapi juga pada bumi tempat manusia hidup bersama.

Sayangnya, dalam perjalanan sejarah yang panjang, makna itu sering kali memudar. Hari raya kadang berubah menjadi perayaan konsumsi yang berisik. Orang berbondong-bondong membeli pakaian baru, menghias rumah, dan merayakan kemenangan pribadi—tetapi lupa bahwa Idul Fitri lahir dari kesederhanaan Nabi dan solidaritas sosial umat.

Padahal jika kita kembali mengingat Madinah pada Idul Fitri pertama, kita akan menemukan pelajaran yang jauh lebih dalam: kemenangan Ramadan bukan diukur dari kemeriahan perayaan, tetapi dari apakah masyarakat menjadi lebih adil setelahnya.

Sebab bagi Nabi, hari raya bukan sekadar tanda bahwa puasa telah selesai. Ia adalah pertanyaan moral bagi umat: apakah setelah satu bulan menahan diri, manusia benar-benar menjadi lebih peduli kepada sesamanya?

Jika pertanyaan itu masih hidup dalam hati kita, maka Idul Fitri tetap akan menjadi seperti pada hari pertama ia dilahirkan di Madinah: hari raya yang bukan hanya merayakan kemenangan diri, tetapi juga memperbaiki kehidupan bersama.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Politics | | | |