REPUBLIKA.CO.ID, PARIS -- Konflik yang memanas di kawasan Timur Tengah sejak akhir Februari 2026 mulai mengguncang pasar energi global. Gangguan terhadap jalur distribusi strategis di Selat Hormuz hingga serangan ke infrastruktur energi memicu lonjakan harga dan ancaman serius terhadap ketahanan energi dunia.
Executive Director International Energy Agency Fatih Birol menegaskan, situasi ini bukan sekadar konflik regional, melainkan krisis yang berdampak luas terhadap stabilitas ekonomi global.
“Gangguan terhadap aliran minyak dan gas melalui Selat Hormuz serta serangan terhadap infrastruktur energi memiliki implikasi besar terhadap ketahanan energi, keterjangkauan harga, dan perekonomian global,” ujar Birol dalam keterangan resminya dilansir Jumat (27/3/2026).
Menurut IEA, perang yang dimulai pada 28 Februari telah menghambat arus perdagangan energi melalui Selat Hormuz dan menciptakan gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global. Dampaknya, pasokan gas alam cair (LNG) dunia juga menurun sekitar 20 persen.
Sebagai respons, pada 11 Maret, negara-negara anggota IEA secara bulat menyepakati pelepasan 400 juta barel cadangan minyak darurat, yang menjadi yang terbesar sepanjang sejarah untuk meredam gejolak pasar.
Tekanan terhadap pasar energi langsung tercermin pada lonjakan harga. Minyak mentah Brent tercatat naik hampir 50 persen sejak konflik pecah, sementara harga gas alam acuan Eropa (TTF) melonjak lebih dari 70 persen.
Di kawasan Asia, harga produk turunan seperti diesel dan bahan bakar jet bahkan meningkat lebih dari dua kali lipat, memperlihatkan tekanan yang lebih besar pada negara-negara importir energi.
IEA mencatat, aliran minyak melalui Selat Hormuz merosot drastis dari sekitar 20 juta barel per hari menjadi hampir terhenti. Keterbatasan jalur alternatif dan kapasitas penyimpanan yang mulai penuh memaksa negara-negara Teluk memangkas produksi lebih dari 11 juta barel per hari.
“Kondisi ini menciptakan tekanan berlapis, baik dari sisi pasokan maupun logistik, yang membuat pasar energi semakin ketat,” kata Birol.
Kawasan Teluk selama ini menjadi pemasok utama produk olahan seperti diesel dan avtur. Namun, lebih dari 3 juta barel per hari kapasitas kilang terhenti akibat serangan dan terbatasnya akses ekspor.
Dampaknya menjalar ke luar kawasan. Kilang di berbagai negara ikut mengurangi produksi karena kekhawatiran pasokan bahan baku. Sementara itu, pasar produk seperti diesel dan bahan bakar jet sudah berada dalam kondisi ketat, sehingga ruang untuk meningkatkan produksi menjadi sangat terbatas.
Di tengah tekanan tersebut, cadangan minyak global menjadi penopang utama. IEA mencatat total stok minyak dunia mencapai lebih dari 8,2 miliar barel level tertinggi sejak Februari 2021.
Sekitar separuh cadangan tersebut berada di negara maju, termasuk 1,25 miliar barel yang disimpan pemerintah untuk kondisi darurat.
“Cadangan ini memberikan ruang bagi negara-negara untuk merespons gangguan pasokan jangka pendek dan menstabilkan pasar,” ujar Birol.
IEA menegaskan akan terus memantau perkembangan situasi dan berkoordinasi dengan pemerintah di seluruh dunia untuk menjaga stabilitas pasokan energi di tengah eskalasi konflik yang masih berlangsung.

1 hour ago
2















































