Inflasi Tahunan Tembus 3,55 Persen di Januari 2026

4 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Inflasi tahunan Indonesia tercatat menembus angka 3,55 persen (year on year/yoy), melebihi target Bank Indonesia (BI) di kisaran 2,5±1 persen. BI meyakini pergerakan inflasi ke depan akan lebih rendah dari capaian di awal 2026 tersebut.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, secara bulanan (month to month/mtm), Indeks Harga Konsumen (IHK) Januari 2026 mengalami deflasi sebesar 0,15 persen. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh inflasi inti yang secara umum terkendali serta deflasi pada kelompok volatile food dan administered prices.

“Dengan perkembangan tersebut, inflasi IHK secara tahunan tercatat sebesar 3,55 persen (yoy), sedikit meningkat dibandingkan dengan realisasi pada bulan sebelumnya sebesar 2,92 persen (yoy). Ke depan, Bank Indonesia meyakini inflasi 2026 dan 2027 secara tahunan akan menurun sehingga tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen,” kata Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangannya, Selasa (3/2/2026).

Denny menuturkan, perkiraan tersebut didukung oleh konsistensi kebijakan moneter serta eratnya sinergi pengendalian inflasi antara BI dan Pemerintah pusat dan daerah dalam Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID), serta penguatan implementasi Program Ketahanan Pangan Nasional.

“Serta berakhirnya pengaruh base effect akibat rendahnya inflasi Januari 2025 karena implementasi kebijakan diskon tarif listrik,” terangnya.

BI menilai inflasi inti tetap terkendali. Tercatat, inflasi inti pada Januari 2026 mencapai 0,37 persen (mtm), sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi bulan sebelumnya sebesar 0,20 persen (mtm). Perkembangan inflasi inti tersebut dipengaruhi oleh kenaikan harga komoditas emas global, di tengah ekspektasi inflasi yang tetap terjaga.

Realisasi inflasi inti pada Januari 2026 terutama disumbang oleh inflasi komoditas emas perhiasan, sewa rumah, dan sepeda motor. Secara tahunan, inflasi inti Januari 2026 tercatat sebesar 2,45 persen (yoy), meningkat dibandingkan dengan bulan sebelumnya sebesar 2,38 persen (yoy).

Sementara itu, kelompok volatile food mengalami deflasi. Pada Januari 2026, kelompok ini mengalami deflasi sebesar 1,96 persen (mtm), lebih rendah dibandingkan dengan realisasi bulan sebelumnya yang mengalami inflasi sebesar 2,74 persen (mtm). Deflasi kelompok volatile food terutama disumbang oleh komoditas cabai merah, cabai rawit, dan bawang merah, seiring peningkatan pasokan pada masa panen.

Secara tahunan, kelompok volatile food mengalami inflasi sebesar 1,14 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya sebesar 6,21 persen (yoy). Ke depan, BI memperkirakan inflasi volatile food tetap terkendali, didukung oleh eratnya sinergi antara BI bersama TPIP dan TPID serta penguatan implementasi Program Ketahanan Pangan Nasional.

Adapun kelompok administered prices juga tercatat mengalami deflasi. Pada Januari 2026, kelompok ini mengalami deflasi sebesar 0,32 persen (mtm), lebih rendah dibandingkan dengan realisasi bulan sebelumnya yang mengalami inflasi sebesar 0,37 persen (mtm). Komoditas penyumbang deflasi bulanan administered prices terutama bensin, tarif angkutan udara, dan tarif angkutan antarkota akibat penurunan harga BBM nonsubsidi serta normalisasi mobilitas pasca Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru.

Secara tahunan, kelompok administered prices tercatat mengalami inflasi sebesar 9,71 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi bulan sebelumnya sebesar 1,93 persen (yoy). Kondisi tersebut terutama dipengaruhi oleh faktor base effect seiring implementasi kebijakan diskon tarif listrik rumah tangga sebesar 50 persen pada Januari–Februari 2025.

Read Entire Article
Politics | | | |