Israel Bom Destilasi Iran, Trump Marah, Arab Rugi 194 Miliar Dolar

3 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Bayangkan satu jalur laut sempit, hanya selebar puluhan kilometer, tiba-tiba menjadi titik tekan geopolitik paling berbahaya di dunia. Di situlah Selat Hormuz, tempat hampir seperlima pasokan minyak global pernah mengalir, kini berubah menjadi medan ancaman terbuka antara Israel, Iran, dan Amerika Serikat.

Pernyataan keras para pemimpin dunia bukan lagi sekadar retorika, melainkan sinyal bahwa konflik ini berpotensi menjalar ke krisis energi dan ekonomi global yang nyata.

Ketika Benjamin Netanyahu menyebut perang telah “lebih dari setengah jalan”, dan Donald Trump menantang negara lain untuk “mengambil sendiri minyak mereka”, dunia dihadapkan pada satu pertanyaan besar: apakah ini awal dari eskalasi yang lebih luas, atau justru tanda bahwa semua pihak sedang mencari jalan keluar dengan risiko minimum?

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa operasi militer terhadap Iran masih akan berlanjut tanpa batas waktu yang jelas. Dalam wawancara dengan Newsmax, sebagaimana diberitakan BBC, ia menyebut misi tempur Israel telah melewati “setengah jalan”, namun menekankan bahwa pernyataan itu tidak merujuk pada durasi perang secara keseluruhan.

Netanyahu juga mengklaim bahwa “ribuan” anggota Korps Garda Revolusi Islam telah tewas, serta menyatakan bahwa Israel, bersama Amerika Serikat, hampir menghancurkan kompleks industri militer Iran, termasuk fasilitas yang terkait dengan program nuklir.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa perubahan rezim bukanlah tujuan resmi, sembari memprediksi bahwa sistem politik Iran akan “runtuh dari dalam”.

Di lapangan, militer Israel terus meningkatkan tekanan. Pasukan Pertahanan Israel (IDF) melaporkan serangkaian serangan baru yang menargetkan apa yang disebut sebagai “infrastruktur rezim teroris Iran” di Teheran.

Juru bicara IDF, Nadav Shoshani, menyatakan bahwa militer siap melanjutkan operasi selama beberapa minggu ke depan, dengan dukungan penuh logistik dan personel.

Sementara itu, eskalasi tidak hanya terjadi di medan tempur, tetapi juga merambah jalur energi global. Iran melalui komite parlemen telah menyetujui rencana untuk mengenakan biaya tol bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz, bahkan melarang kapal Amerika Serikat, Israel, dan negara-negara yang terlibat dalam sanksi terhadap Iran.

Langkah ini berpotensi menjadi titik balik besar dalam dinamika energi dunia. Sebelum konflik memanas, sekitar 20 persen minyak global melewati Selat Hormuz. Kini, menurut data intelijen maritim, lalu lintas kapal di jalur tersebut anjlok hingga sekitar 95 persen, menandakan gangguan serius terhadap rantai pasok energi global.

Di tengah situasi tersebut, Donald Trump melontarkan pernyataan yang semakin memperkeruh keadaan. Ia mengancam akan menghancurkan infrastruktur vital Iran, termasuk pembangkit listrik dan fasilitas minyak, jika kesepakatan tidak segera tercapai. Bahkan, ia mendorong negara-negara lain untuk “berjuang sendiri” dalam mengamankan pasokan energi mereka.

Read Entire Article
Politics | | | |