Relawan melakukan simulasi cara bernapas penyintas hipertensi paru saat acara Bulan Kesadaran Hipertensi Paru 2025 di Jakarta, Kamis (27/11/2025). Kanker paru semakin banyak menyerang perempuan di bawah usia 50 tahun, bahkan bagi mereka yang sama sekali belum pernah menyentuh rokok seumur hidupnya. (ilustrasi).
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Jika selama ini publik mengenal kanker paru sebagai penyakit pria lansia yang memiliki riwayat perokok berat, data terbaru menunjukkan pola berbeda. Saat ini, penyakit mematikan tersebut semakin banyak menyerang perempuan di bawah usia 50 tahun, bahkan bagi mereka yang sama sekali belum pernah menyentuh rokok seumur hidupnya.
Fenomena ini menjadi sorotan serius bagi para ahli onkologi di seluruh dunia. Berdasarkan statistik tahun 2025 dari American Cancer Society, prevalensi kanker paru pada perempuan di bawah usia 65 tahun telah melampaui angka pada laki-laki untuk pertama kalinya sejak 2021.
Meskipun secara historis angka kanker pada kelompok usia 0 hingga 49 tahun lebih tinggi pada perempuan karena faktor kanker payudara, kenaikan spesifik pada kasus paru-paru menciptakan urgensi kesehatan masyarakat yang baru. Konsultan senior dan kepala onlologi medis di Accord Super Speciality Hospital, Faridabad, NCR, India, dr Sunny Jain, mengatakan gaya hidup modern dan faktor lingkungan memegang peranan krusial.
"Polusi udara, terutama materi partikulat halus yang menembus jauh ke dalam paru-paru, kini terbukti menjadi penyebab kanker paru. Di kota-kota besar, tingkat polusi secara rutin melampaui batas aman," ujar Sunny dikutip dari laman Hindustan Times pada Kamis (1/1/2026).
Selain faktor lingkungan luar, paparan di dalam rumah juga menjadi pemicu yang signifikan bagi perempuan. Dia mengatakan paparan asap dapur yang berkepanjangan dari bahan bakar biomassa, ventilasi yang buruk, serta menjadi perokok pasif terus menempatkan perempuan pada risiko tinggi. Menariknya, faktor biologis juga memberikan kontribusi yang berbeda pada perempuan dibandingkan pria.
“Perempuan, terutama perempuan Asia, lebih mungkin terkena adenocarcinoma, sebuah subtipe kanker paru yang sering terjadi pada non-perokok. Kanker ini sering kali membawa mutasi genetik yang mendorong pertumbuhan kanker bahkan tanpa paparan tembakau yang berat," ujarnya.

3 weeks ago
24















































