Rudal canggih terbaru Iran, Qasim Bashir yang digadang-gadang mampu menembus pertahanan udara Israel.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-Pada April 2021, Komandan Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) saat itu, Jenderal Kenneth F McKenzie, mengeluarkan pernyataan ini sebagai tanggapan atas pertanyaan yang diajukan kepadanya mengenai perkembangan kemampuan Iran di bidang rudal balistik.
McKenzie menyatakan, “Selama lima hingga tujuh tahun terakhir, Iran telah mencapai peningkatan kualitas yang signifikan dalam kekuatan rudal balistiknya, dan kekuatan ini juga mengalami pertumbuhan kuantitatif, dengan jumlah rudal yang sekarang mencapai sekitar 3.000 rudal dengan jangkauan yang berbeda-beda, tergantung cara menghitungnya.”
Dalam wawancara yang dilakukan dengannya pada bulan Desember tahun yang sama, Jenderal McKenzie melangkah lebih jauh. Media mengutip perkataannya bahwa program rudal Iran kini menjadi ancaman langsung yang lebih besar daripada program nuklir Iran.
Rudal-rudal tersebut memberi Teheran apa yang dia gambarkan sebagai keunggulan yang menentukan, termasuk kemampuan untuk ‘membanjiri’ atau “mengacaukan” pertahanan militer AS atau pertahanan pasukan sekutu di kawasan itu dengan kekuatan tembakan yang melebihi kemampuan mereka untuk melawan.
Program rudal ini merupakan elemen kunci dalam perang Amerika-Israel melawan Iran yang bertujuan, setidaknya, untuk mengurangi kemampuan militer Iran dalam hal pencegahan, terutama program rudalnya.
Sebaliknya, Iran menggunakan persenjataan rudalnya untuk membuktikan kemampuannya bertahan menghadapi serangan dengan mengarahkan rudalnya ke jantung kota-kota Israel, serta ke pangkalan dan kepentingan Amerika, seperti yang dikatakan oleh pejabat Iran.
Sejarah program rudal Iran
Program rudal ini, yang diuji coba secara praktis dalam Perang 12 Hari pada Juni 2025 dan perang yang sedang berlangsung yang meletus pada dini hari 28 Februari 2026, memiliki sejarah panjang yang dimulai sejak 1970-an.
Ini dengan gelombang pengembangan militer yang dicoba diluncurkan oleh Shah pada periode sebelum Revolusi Islam yang menggulingkan rezimnya pada 1979.
Pada 1977, Teheran menandatangani perjanjian militer dengan Israel yang saat itu dikenal sebagai “Proyek Bunga” (Project Flower), salah satu dari serangkaian perjanjian Iran-Israel yang disepakati dengan formula “minyak untuk senjata”.

2 hours ago
4
















































