Kaya Sumber Daya Gas Alam, Madura Dinilai Layak Jadi Pusat Ekosistem CNG

3 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Rencana pemerintah melakukan konversi energi nasional dari Liquefied Petroleum Gas (LPG) menuju Compressed Natural Gas (CNG) disambut positif. Kebijakan tersebut dinilai bukan sekadar langkah efisiensi energi, tetapi juga berpotensi mengoreksi ketimpangan pembangunan antara pusat konsumsi energi dan daerah penghasil sumber daya gas.

Pemerintahan diketahui tengah menyiapkan konversi energi tahap kedua sebagai bagian dari strategi penguatan ketahanan energi nasional sekaligus pengurangan ketergantungan impor LPG. Di tengah wacana tersebut, wilayah penghasil gas seperti Pulau Madura dinilai memiliki peluang strategis untuk masuk dalam rantai ekosistem energi baru berbasis gas bumi.

Founder dan Owner Bandar Gas Madura (Bagasmara), HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur, menyambut positif rencana tersebut. Menurutnya, konversi LPG ke CNG tidak hanya relevan bagi kepentingan nasional, tetapi juga membuka ruang keadilan ekonomi bagi daerah yang selama ini menjadi sumber produksi energi.

“Bagi Indonesia, ini adalah agenda strategis. Tetapi bagi Madura, rencana besar ini memiliki makna yang jauh lebih dalam. Ini bukan hanya soal energi. Ini soal keadilan. Ini soal sejarah panjang sebuah pulau yang kaya sumber daya, tetapi rakyatnya masih bergulat dengan kemiskinan,” kata Gus Lilur kepada wartawan di Jakarta, Rabu (13/5/2026).

Ia menilai, selama puluhan tahun Madura dikenal sebagai wilayah dengan potensi gas alam yang besar, namun manfaat ekonomi langsung bagi masyarakat lokal dinilai belum optimal. Konversi energi nasional dinilai dapat menjadi titik balik untuk menempatkan Madura bukan sekadar daerah eksploitasi sumber daya, melainkan pusat pertumbuhan ekonomi baru berbasis energi gas.

Menurut Gus Lilur, perubahan orientasi energi menuju CNG berpotensi menghadirkan rantai ekonomi baru mulai dari sektor hulu hingga hilir, termasuk pembangunan infrastruktur distribusi gas, industri turunan energi, hingga pembukaan lapangan kerja lokal.

“Jika kebijakan ini dijalankan serius, Madura sangat layak menjadi pusat ekosistem NGC nasional. Infrastruktur energi bisa tumbuh, investasi masuk, dan masyarakat lokal menjadi pelaku utama, bukan hanya penonton,” ujarnya.

Ia menambahkan, konversi LPG ke CNG juga berpotensi memperkuat kemandirian energi nasional karena Indonesia memiliki cadangan gas yang relatif melimpah dibanding ketergantungan terhadap impor LPG. Pemanfaatan gas domestik dinilai dapat menekan beban subsidi energi sekaligus meningkatkan efisiensi distribusi.

Selain aspek ekonomi, Gus Lilur menyoroti dimensi sosial dari kebijakan energi nasional. Menurutnya, pembangunan sektor energi seharusnya mampu menghadirkan pemerataan kesejahteraan di daerah penghasil sumber daya, sehingga tidak terjadi kesenjangan antara wilayah produksi dan wilayah konsumsi energi.

Ia menilai pemerintah memiliki momentum politik dan ekonomi yang kuat untuk melakukan transformasi tersebut, terutama di tengah dorongan global menuju energi yang lebih bersih dan efisien.

“Konversi energi bukan hanya perubahan bahan bakar. Ini kesempatan membangun peradaban ekonomi baru di daerah. Madura memiliki sejarah panjang sebagai penyumbang energi, dan sudah saatnya menjadi pusat pertumbuhan,” katanya.

Gus Lilur berharap pemerintah pusat dapat melibatkan pelaku usaha lokal, pemerintah daerah, serta masyarakat dalam pengembangan ekosistem gas nasional agar kebijakan konversi energi tidak hanya bersifat teknokratis, tetapi juga berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat.

Menurutnya, keberhasilan konversi LPG ke CNG akan sangat ditentukan oleh kesiapan infrastruktur, regulasi investasi, serta keberpihakan kebijakan terhadap daerah penghasil energi. Tanpa pendekatan tersebut, peluang pemerataan ekonomi dikhawatirkan tidak akan tercapai secara optimal.

Dengan potensi cadangan gas dan posisi geografisnya, Madura dinilai memiliki modal awal untuk menjadi simpul baru pengembangan energi gas nasional. Rencana konversi energi pemerintah pun dipandang sebagai momentum strategis untuk mempercepat lahirnya pusat ekosistem gas baru di Indonesia.

Read Entire Article
Politics | | | |