Ridwan Ibnu Asikin
Khazanah | 2026-06-19 15:05:07
Kejar Duniamu, Prioritaskan Akhiratmu
Oleh: Ridwan Ibnu Asikin*
Dalam kehidupan modern hari ini, banyak orang dihadapkan pada pilihan yang tampak seolah saling bertentangan: mengejar dunia atau mempersiapkan akhirat. Sebagian merasa bahwa kesuksesan dunia harus diraih secepat mungkin, sementara urusan akhirat bisa menyusul kemudian. Sebagian lain justru memilih menjauh dari dunia karena khawatir akan melalaikan tujuan akhirat.
Padahal, dalam khazanah Islam, keduanya bukanlah sesuatu yang harus dipertentangkan.
Salah satu ungkapan yang sarat makna datang dari Sayyid Abu Bakar Syatha dalam karyanya Kifayatul Atqiya wa Minhajul Ashfiya: “Kejar duniamu, prioritaskan akhiratmu.” Sebuah kalimat singkat, namun mengandung panduan hidup yang dalam dan relevan sepanjang zaman.
Ungkapan ini tidak mengajarkan kita untuk meninggalkan dunia. Justru sebaliknya, Islam mendorong umatnya untuk aktif, produktif, dan berkontribusi dalam kehidupan. Bekerja, berusaha, membangun ekonomi, bahkan meraih keberhasilan—semuanya adalah bagian dari ibadah jika dilandasi niat yang benar.
Namun, yang sering terlupakan adalah soal prioritas.
Dunia adalah sarana, sedangkan akhirat adalah tujuan. Ketika sarana diperlakukan sebagai tujuan, di situlah manusia mulai kehilangan arah. Kita bekerja keras, tetapi lupa untuk bertanya: untuk apa semua ini? Kita mengejar pencapaian, tetapi jarang merenung: ke mana semua ini akan bermuara?
Akibatnya, tidak sedikit yang mencapai puncak keberhasilan dunia, tetapi tetap merasa kosong. Harta bertambah, jabatan meningkat, tetapi ketenangan justru menjauh. Ini bukan karena dunia itu salah, melainkan karena hati tidak lagi tertaut pada tujuan yang benar.
Islam tidak melarang kita mencintai dunia, tetapi mengingatkan agar dunia tidak menguasai hati kita.
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berulang kali mengingatkan tentang kehidupan dunia yang sementara, bukan untuk melemahkan semangat berusaha, tetapi untuk meluruskan orientasi. Dunia adalah ladang, dan akhirat adalah tempat panen. Apa yang kita tanam hari ini, itulah yang akan kita tuai kelak.
Maka, “mengejar dunia” dalam perspektif Islam bukan sekadar soal akumulasi materi, tetapi bagaimana setiap usaha memiliki nilai keberkahan. Bukan hanya seberapa banyak yang kita dapatkan, tetapi bagaimana cara kita mendapatkannya dan untuk apa kita menggunakannya.
Di sinilah pentingnya “memprioritaskan akhirat”.
Memprioritaskan akhirat bukan berarti meninggalkan pekerjaan, bisnis, atau aktivitas duniawi. Ia hadir dalam bentuk niat yang lurus, kejujuran dalam bekerja, keadilan dalam bermuamalah, serta kesadaran bahwa setiap langkah akan dimintai pertanggungjawaban.
Lebih jauh lagi, memprioritaskan akhirat juga berarti menjaga keseimbangan hidup. Di tengah kesibukan mengejar target, kita tetap menjaga shalat. Di tengah ambisi membangun karier, kita tidak melupakan keluarga. Di tengah upaya memperluas usaha, kita tetap peduli pada sesama.
Inilah keseimbangan yang diajarkan Islam—bukan menjauh dari dunia, tetapi menempatkan dunia pada posisinya.
Tantangan terbesar manusia modern bukanlah kurangnya peluang, tetapi kaburnya prioritas. Kita sering kali tahu apa yang harus dilakukan, tetapi tidak selalu tahu mana yang harus didahulukan. Semua terasa penting, hingga akhirnya yang paling penting justru terabaikan.
Ungkapan Sayyid Abu Bakar Syatha menjadi pengingat yang sangat relevan: silakan kejar dunia, bahkan dengan sungguh-sungguh. Namun, jangan pernah menukar arah hidup hanya demi pencapaian yang bersifat sementara.
Karena pada akhirnya, dunia yang kita kejar akan kita tinggalkan. Sementara akhirat yang kita prioritaskan akan kita hadapi selamanya.
*Penulis Adalah Mahasiswa Program Doktor Manajemen Bisnis Syariah UNISBA Bandung
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

7 hours ago
11












































