Tak Pakai Listrik PLN, Ada Permukiman di Bandung Barat Tetap Terang saat Pemadaman Bergilir

8 hours ago 13

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG BARAT -- Di tengah hiruk-pikuk keluhan akibat pemadaman listrik bergilir dengan durasi cukup lama, Warga Kampung Tangsijaya, Desa Gununghalu, Kecamatan Gumunghalu, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat tetap terang. Hal itu dikarenakan mereka tak mengandalkan pasokan listrik yang diproduksi PLN.

Permukiman di ujung tapal batas Kabupaten Bandung Barat dengan Kabupaten Bandung itu berhasil mewujudkan kemandirian energi dengan keberadaan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) berkapasitas 20 ampere yang dikelola Koperasi Produsen Rimba Lestari. Setidaknya ada sekitar 80-90 rumah lebih yang diterangi teknologi sederhana dengan memanfaatkan air Sungai Ciputri itu.

"Sekitar tahun 1990-an, kami masih pakai lampu tempel dan minyak tanah," kata Ketua Koperasi Rimba Lestari, Opan Sopandi saat dikonfirmasi, Jumat (19/6/2026).

Upaya memanfaatkan aliran sungai sebagai sumber energi sudah dilakukan sejak awal 1990-an saat warga belum tersentuh aliran listrik PLN. Keterbatasan akses listrik mendorong warga berinovasi dengan membuat kincir air sederhana dari kayu.

Dinamo yang digunakan pun dirakit secara mandiri dari magnet bekas motor. Saat itu, kapasitas listrik yang dihasilkan dari setiap dinamo hanya berkisar 100 hingga 300 watt. Keberadaan Sungai Ciputri yang memiliki debit air stabil menjadi modal utama warga menghasilkan listrik secara mandiri.

"Satu kincir biasanya untuk satu rumah, jadi hampir setiap rumah punya kincir yang dipasang di sungai. Di sini dulu kampung yang jauh dari mana-mana dan sulit dijangkau. Tapi ada Sungai Ciputri yang arusnya selalu deras, sehingga dimanfaatkan untuk menyalakan lampu," jelas Opan.

Harapan untuk menikmati layanan listrik PLN terbentur lokasi dusun dengan topografi berbukit-bukit dan hutan. Asa untuk memiliki cahaya penerangan akhirnya terwujud di tahun 2007 sejak PLTMH dibangun. Sebuah bendungan kecil dibangun di lereng gunung untuk menampung air yang kemudian dialirkan melalui pipa berdiameter 70 sentimeter menuju rumah pembangkit atau power house.

"Di power house itu listrik diproduksi. Sementara airnya kita kembalikan lagi ke sungai. Hanya numpang lewat saja, tanpa merusak lingkungan," ucap Opan.

Teknologi sederhana ini memiliki turbin untuk debit air 400 liter yang menghasilkan listrik 20 ampere. Sedangkan yang dialirkan oleh generator ke rumah-rumah warga sebesar 18 ampere. Ada sekitar 80 kepala keluarga (KK) yang masih memanfaatkan pasokan listrik dari PLTMH, meskipun kini ke wilayah tersebut sudah tersambung dengan PLN.

Namun karena biaya yang murah, Rp 25 ribu per bulan untuk biaya perawatan dan insentif operator PLTMH, banyak warga yang masih bertahan. Menurut Opan, iuran tersebut bukan untuk mencari keuntungan, melainkan digunakan untuk biaya perawatan pembangkit dan membayar para penjaga turbin agar pasokan listrik tetap terjaga.

Read Entire Article
Politics | | | |