REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di tengah deru pesawat dan hiruk-pikuk penumpang, Bandara Internasional Banyuwangi justru menawarkan sesuatu yang lebih berharga bagi generasi penerus: ruang edukasi yang hidup. Keberadaan ruang publik yang ramah anak bukan lagi sekadar fasilitas tambahan, melainkan investasi sosial yang krusial untuk membentuk wawasan, memicu rasa ingin tahu, dan membuka cakrawala anak-anak sejak dini.
Di sini, bandara tidak lagi sekadar gerbang transportasi, melainkan transformasi menjadi ruang belajar interaktif yang memadukan fungsi pelayanan publik dengan tanggung jawab edukatif.
General Manager Bandara Internasional Banyuwangi, Holik Muardi, menegaskan komitmen bandara sebagai ruang publik yang aman, nyaman, dan edukatif bagi anak-anak. "Bandara bukan hanya tempat transit, tetapi juga tempat belajar yang menyenangkan, di mana anak-anak dapat mengenal dunia penerbangan sejak dini," ujarnya.
Komitmen ini diwujudkan melalui program kunjungan edukasi yang dirancang untuk memperkenalkan beragam profesi di bandara, mulai dari pilot, petugas aviation security, customer service, hingga petugas ground handling. Sepanjang tahun 2025, program ini telah diikuti oleh 1.311 anak dari 33 sekolah, dan hingga 2026 sudah diikuti 833 anak dari 17 sekolah. Setiap kunjungan didampingi pemandu yang menyampaikan materi secara interaktif, memberikan pengalaman langsung yang jauh dari kesan monoton.
Harmoni antara Teknologi, Budaya, dan Lingkungan
Bandara Internasional Banyuwangi mengusung konsep green airport yang unik, yaitu beroperasi tanpa pendingin udara (AC) dengan mengandalkan ventilasi alami dan desain arsitektur yang cerdas. Konsep ini tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga menciptakan suasana sejuk dan asri berkat aliran udara yang teratur dan penghijauan yang tertata. Arsitektur bandara mengambil tema rumah adat Osing, suku asli Banyuwangi, sehingga tidak hanya fungsional, tetapi juga menjadi representasi budaya lokal yang kuat.
Konsep serupa telah diterapkan di beberapa bandara dunia, seperti Bandara Changi Singapura dengan taman vertikal dan sistem daur ulang airnya, serta Bandara Marco Venesia, Italia, yang memanfaatkan energi terbarukan secara maksimal. Di Indonesia, Bandara Internasional Banyuwangi menjadi pelopor dalam menerapkan konsep bandara hijau yang mengintegrasikan kearifan lokal dengan prinsip keberlanjutan.
sumber : Antara

2 hours ago
4















































