REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 dinilai sangat bergantung pada daya beli masyarakat kelas menengah dan menengah atas. Pembiayaan konsumer seperti perumahan dan kendaraan diproyeksikan menjadi motor utama perputaran ekonomi nasional.
Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Hendra Lembong mengatakan, konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama ekonomi Indonesia. “Kalau melihat tahun 2025, pertumbuhan yang paling besar itu di sektor korporasi. Tapi kita di Indonesia dengan penduduk yang hampir 300 juta, sebetulnya potensi yang lebih besar ada di sektor individu,” kata Hendra Lembong dalam pembukaan BCA Expoversary di ICE BSD Tangerang, Kamis (5/2/2026).
Karena itu, BCA mendorong penyaluran kredit individu dengan suku bunga kompetitif guna menjaga likuiditas masyarakat sekaligus mempertahankan momentum pertumbuhan. Hendra menilai pembiayaan berbunga rendah memberi ruang bagi masyarakat untuk tetap berinvestasi tanpa menekan arus kas.
Dari sisi perumahan, kinerja kredit pemilikan rumah (KPR) BCA masih solid sepanjang 2025. Direktur Konsumer BCA Haryanto T Budiman mengatakan, BCA membukukan kredit baru KPR sebesar Rp40,3 triliun. “Run-off kita itu Rp3 triliun lebih, tapi itu artinya sehat, artinya nasabah kita itu bayar cicilan tepat waktu,” kata Haryanto.
Memasuki 2026, BCA tetap optimistis penyaluran KPR akan tumbuh lebih tinggi, ditopang kerja sama dengan pengembang serta strategi suku bunga kompetitif. “Tahun ini kami ingin lebih besar lagi dari tahun lalu, ya dari segi pertumbuhan, dan kita optimis,” ujarnya.
Di sektor kendaraan bermotor, sinyal pemulihan mulai terlihat melalui tingginya pemesanan awal. Ketua Panitia BCA Expoversary 2026 sekaligus Direktur BCA Finance Petrus Karim mengatakan, sebelum pameran digelar BCA telah mencatat lebih dari 3.300 surat pemesanan kendaraan (SPK). “Kami sudah mencatat SPK di tangan kami untuk pre-sale itu sudah ada 3.300 lebih SPK,” kata Petrus.
Menurut Petrus, capaian tersebut mencerminkan kebutuhan kendaraan masyarakat yang masih tinggi, baik berbahan bakar konvensional maupun listrik. “Ini menggambarkan prospek ke depannya, kami besar hati masih banyak lagi nasabah Indonesia yang memerlukan kendaraan,” ujarnya.
Optimisme BCA sejalan dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,11 persen sepanjang 2025, dengan konsumsi rumah tangga tetap menjadi kontributor utama. Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, konsumsi masyarakat pada kuartal IV 2025 menunjukkan tren peningkatan.
“Pergerakan konsumsi masyarakat ditunjukkan oleh Indeks Penjualan Eceran Riil yang pada kuartal IV 2025 ini tumbuh baik secara yoy maupun secara kumulatif,” ujar Amalia.
BPS juga mencatat transaksi daring tumbuh 12,2 persen secara kuartalan, disertai peningkatan transaksi uang elektronik, kartu debit, dan kartu kredit. Mobilitas masyarakat serta aktivitas investasi turut menguat pada akhir 2025.

3 hours ago
5














































