Kolaborasi Kampus dan Industri Perkuat Kompetensi Siber Generasi Muda

5 hours ago 11

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Universitas Pembangunan Jaya (UPJ) menggandeng berbagai mitra industri untuk memperkuat kompetensi keamanan siber generasi muda melalui program Cybersecurity for All (CS4ALL). Inisiatif tersebut ditujukan bagi mahasiswa, siswa sekolah menengah kejuruan (SMK), komunitas pendidikan, hingga masyarakat umum guna meningkatkan kesiapan menghadapi berbagai ancaman digital yang kian kompleks.

Program yang merupakan bagian dari Erasmus+ Capacity Building in Higher Education Project tersebut menghadirkan rangkaian workshop yang menggabungkan pembelajaran teori, praktik laboratorium, hingga pengalaman langsung dari pelaku industri keamanan siber.

Kepala Program Studi Informatika UPJ sekaligus Team Leader CS4ALL UPJ, Ida Nurhaida, mengatakan keamanan siber saat ini bukan lagi kompetensi yang hanya dibutuhkan kalangan teknis, melainkan keterampilan penting yang perlu dipahami generasi muda sejak dini.

Menurut dia, keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah peserta yang terlibat, tetapi juga dari peningkatan pemahaman dan kemampuan peserta dalam mengenali berbagai risiko di ruang digital.

“Bagi kami, keberhasilan CS4ALL tak hanya dilihat dari jumlah peserta yang hadir, tapi dari sejauh mana peserta mendapat pengalaman belajar yang relevan, mengalami peningkatan pemahaman, dan mulai mampu melihat keamanan siber sebagai kompetensi penting di era digital,” ujarnya.

Ida menjelaskan, rangkaian pelatihan dirancang secara bertahap mulai dari pengenalan konsep dasar keamanan digital, pemahaman ancaman siber, praktik pemantauan keamanan, hingga pengenalan Security Operations Center (SOC) dan penanganan insiden siber.

Program tersebut melibatkan sejumlah perguruan tinggi, antara lain Universitas Pembangunan Jaya, IPB University, dan Swiss German University. Kolaborasi juga dilakukan dengan berbagai mitra industri seperti MANTA, Xellar, CoinEx, dan BlockDevId.

Melalui kolaborasi tersebut, peserta tidak hanya memperoleh pemahaman teoritis, tetapi juga mendapat gambaran mengenai implementasi keamanan siber di dunia industri, termasuk pengamanan sistem digital, pemantauan ancaman, hingga respons terhadap insiden keamanan.

Rangkaian workshop mengangkat lima tema utama, yakni blockchain dan sistem digital aman, kesadaran keamanan siber, pemahaman lanskap ancaman digital, praktik pemantauan ancaman menggunakan honeypot, serta pengenalan Security Operations Center dan incident response.

Hasil evaluasi program menunjukkan peningkatan pemahaman peserta pada seluruh sesi pelatihan. Pada workshop blockchain security, rata-rata nilai peserta meningkat dari 52 persen menjadi 74 persen. Sementara pada sesi cybersecurity awareness untuk siswa SMK, nilai peserta meningkat dari 50,6 persen menjadi 74,2 persen.

Peningkatan serupa juga terlihat pada pelatihan threat landscape dan honeypot fundamentals yang naik dari 54,8 persen menjadi 76,5 persen. Adapun sesi praktik honeypot deployment meningkat dari 56,2 persen menjadi 78,4 persen, sedangkan pelatihan Security Operations Center dan incident response mencatat peningkatan tertinggi dari 57,4 persen menjadi 80,6 persen.

Menurut Ida, melalui program tersebut peserta mulai memahami berbagai bentuk ancaman digital yang umum terjadi, seperti phishing, malware, pencurian data, hingga proses dasar pemantauan dan penanganan insiden keamanan.

Ia menambahkan, penguatan literasi keamanan siber menjadi kebutuhan mendesak di tengah meningkatnya penggunaan teknologi digital di berbagai sektor. Karena itu, kampus terus memperkuat ekosistem pembelajaran berbasis praktik melalui laboratorium keamanan siber, kolaborasi industri, dan program internasional.

Ke depan, hasil program CS4ALL akan dikembangkan menjadi pelatihan lanjutan, micro-credential, sertifikasi kompetensi, serta berbagai kegiatan penguatan kapasitas bagi mahasiswa, siswa, guru, dan komunitas.

“Melalui CS4ALL, kami menegaskan komitmen turut membangun talenta digital Indonesia yang tak hanya melek teknologi, tetapi juga memiliki kesiapan menghadapi tantangan keamanan siber di masa depan,” kata Ida.

Read Entire Article
Politics | | | |