Konflik AS–Venezuela Picu Volatilitas Pasar, IHSG Berpotensi Melemah Terbatas

2 weeks ago 21

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Analis pasar modal sekaligus founder Republik Investor Hendra Wardana menilai sentimen global, khususnya memanasnya hubungan Amerika Serikat (AS) dan Venezuela, akan menjadi faktor dominan yang memengaruhi pergerakan pasar keuangan pada awal 2026.

“Isu penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh otoritas AS meningkatkan ketegangan geopolitik dan langsung berdampak pada persepsi risiko global,” ujar Hendra di Jakarta, Ahad (4/1/2026).

Ia menjelaskan memanasnya hubungan AS dan Venezuela berpotensi meningkatkan aversi risiko investor global dalam jangka pendek. Venezuela merupakan negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia, sehingga setiap eskalasi konflik dinilai berisiko mengganggu stabilitas pasokan energi global.

“Kondisi ini mendorong harga minyak bergerak volatil dan cenderung menguat dalam jangka pendek,” ujar Hendra.

Terkait Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), Hendra memproyeksikan indeks akan melemah terbatas untuk menguji area support di kisaran 8.642 hingga 8.672 pada perdagangan Senin (5/1/2026). “Area tersebut menjadi level krusial untuk mengukur kekuatan pasar, sementara resistance terdekat tetap berada di level puncak historis 8.777,” katanya.

Di sisi lain, situasi geopolitik ini berpotensi memberikan sentimen positif bagi saham-saham sektor energi dan komoditas. Namun, pada saat yang sama, kondisi tersebut juga meningkatkan kekhawatiran investor terhadap inflasi dan ketidakpastian global, sehingga mendorong sikap wait and see, khususnya dari investor asing.

Selain faktor AS dan Venezuela, Hendra menyebut pergerakan IHSG pada pekan depan juga akan dipengaruhi ekspektasi arah kebijakan suku bunga global, pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, serta dinamika arus dana asing di pasar emerging markets.

Dari dalam negeri, pelaku pasar mencermati kesinambungan kebijakan ekonomi pemerintah yang pro-pasar, stabilitas makroekonomi, serta realisasi kinerja awal tahun emiten berkapitalisasi besar. “Kombinasi sentimen global dan domestik ini membuat pergerakan IHSG cenderung fluktuatif, namun masih berada dalam fase konsolidasi yang sehat selama support utama mampu dipertahankan,” ujar Hendra.

Dalam konteks jangka menengah hingga panjang, ia menilai proyeksi IHSG menembus level 10.000 pada akhir 2026 memang terkesan ambisius, tetapi masih berada dalam koridor realistis jika ditopang fondasi pasar modal Indonesia yang kuat.

“Awal 2026 dibuka dengan sentimen positif, tercermin dari penguatan IHSG lebih dari 1 persen pada hari perdagangan pertama dengan nilai transaksi yang besar. Ini menandakan kepercayaan pasar terhadap prospek ekonomi nasional masih cukup solid,” ujarnya.

Namun, untuk mencapai level psikologis 10.000, penguatan IHSG tetap membutuhkan dukungan fundamental yang berkelanjutan. Pertumbuhan laba emiten, khususnya saham berkapitalisasi besar, dinilai menjadi motor utama penguatan indeks.

Selain itu, peluang kembalinya arus dana asing seiring meningkatnya ekspektasi penurunan suku bunga global, stabilitas inflasi, nilai tukar rupiah yang terkendali, serta keberlanjutan penawaran umum perdana (IPO) berkualitas akan memperkuat struktur pasar modal dalam jangka panjang.

“Di tengah volatilitas jangka pendek akibat sentimen geopolitik, strategi yang lebih relevan adalah selektif dan memanfaatkan koreksi sebagai peluang trading maupun akumulasi terbatas,” ujar Hendra.

Secara keseluruhan, meskipun ketegangan global akibat konflik AS dan Venezuela berpotensi menekan IHSG dalam jangka pendek, struktur pasar domestik yang semakin matang serta prospek pertumbuhan laba emiten membuat prospek IHSG tetap konstruktif.

“Selama area support 8.642–8.672 mampu bertahan, peluang IHSG untuk kembali menguji level tertinggi sepanjang masa di 8.777 tetap terbuka,” katanya.

Data penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat (2/1/2026) menunjukkan IHSG ditutup menguat 101,19 poin atau 1,17 persen ke posisi 8.748,13. Frekuensi perdagangan tercatat 3.127.022 transaksi dengan volume 51,14 miliar lembar saham senilai Rp 22,26 triliun. Sebanyak 479 saham menguat, 200 saham melemah, dan 131 saham stagnan.

sumber : Antara

Read Entire Article
Politics | | | |