Letda Alwi Al Hadad: Dari Kegagalan Berulang Menuju Benteng Pertahanan Siber TNI

2 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di balik seragam dinas Letnan Dua (Letda) yang gagah, tersimpan cerita tentang kegigihan luar biasa. Alwi Al Hadad, perwira pertama TNI yang kini menjabat sebagai Paunit Satlinta (Satuan Perlindungan Data) Satsiber Mabes TNI, adalah bukti nyata asal-usul kampus dan kegagalan di masa lalu bukanlah penentu akhir masa depan seseorang.

Mimpi Alwi menjadi prajurit TNI tidaklah datang ujug-ujug, tapi memang sudah menjadi impian sejak kecil. Ketika lulus dari SMA, ia berikhtiar masuk TNI tetapi harus menelan pil pahit dengan merasakan kegagalan hingga tiga kali berturut-turut.

Segala upaya telah dia lakukan, mulai dari operasi mata hingga pemasangan behel gigi demi memenuhi standar fisik yang ketat. Namun, keberuntungan belum berpihak padanya saat itu.

"Kami (Alwi sekeluarga) di situ sempat putus asa. Sudah operasi mata, biayanya lumayan tinggi, tapi ternyata belum rezeki," kenang Alwi.

Di tengah keputusasaan tersebut, dukungan orang tua justru menjadi kekuatannya untuk tetap melangkah. Ia pun memutuskan menempuh jalur pendidikan tinggi terlebih dahulu, dengan kuliah di Program Studi Informatika, Universitas Nusa Mandiri (UNM).

Loncatan Budaya: Dari Pesantren ke Barisan Kode

Transisi dari dunia pesantren ke dunia teknologi informasi (TI) di Prodi Informatika UNM, memberikan tantangan tersendiri bagi Alwi. Sebagai alumnus madrasah aliyah, ia merasa tertinggal dibandingkan rekan-rekan kuliahnya yang berasal dari SMK jurusan komputer.

Namun, Alwi bukan tipe orang yang mudah menyerah. Ia mengorbankan waktu senggang dan bermainnya untuk mengejar ketertinggalan dengan belajar tambahan sendiri melalui kanal online, modul kampus, hingga pelatihan-pelatihan Digital Talent dari kementerian.

Memang takdir itu mengikuti, kuliah di UNM, membuatnya mendapatkan banyak dukungan penuh dari dosen-dosennya, terutama saat ia ingin mengambil sertifikasi profesional di luar kampus, dan itu menjadi titik balik kepercayaan dirinya.

Dari seorang pemuda yang sempat merasa "salah jurusan" karena pusing melihat barisan kode, Alwi mulai bertransformasi menjadi salah satu mahasiswa terbaik di bidangnya.

Menyeimbangkan Otak Siber dan Fisik Militer

Sebagai seseorang yang tumbuh di lingkungan IT pada akhirnya, Alwi tidak menampik adanya stereotip "anak IT" cenderung introvert yang memang lebih lama dan nyaman menghabiskan waktu berjam-jam di depan layer komputer.

Ia sempat merasakan apa yang diistilahkannya sebagai "gravitasi kasur yang sangat kuat", merujuk pada kemalasan beraktivitas fisik yang sering melanda orang-orang dengan kebiasaan bekerja di depan komputer.

Namun, dunia militer, seperti kita tahu menuntut perubahan drastis. Masuk ke lingkungan TNI sebagai perwira karier membuatnya harus beradaptasi cepat dengan tradisi disiplin dan latihan fisik yang keras.

Dari yang awalnya merasa kaget dengan perubahan pola hidup, Alwi perlahan mengubah cara pandangnya. Ia memandang latihan fisik bukan lagi sebagai beban, melainkan penyeimbang bagi beban kerja mentalnya di unit siber.

"Fisik capek, otak juga capek. Jadi saya nikmati saja, itung-itung untuk menjaga kesehatan. Dulu waktu masih sipil, saya main di depan komputer terus dan jarang olahraga. Sekarang justru jadi lebih seimbang," tuturnya.

Menaklukkan Persaingan Ketat PA PK TNI

Usaha memang tak pernah mengkhiati hasil, peluang emas pun datang melalui jalur Perwira Prajurit Karier (PA PK) TNI, yang betul-betul dimanfaatkan Alwi untuk tetap mengejar keinginannya bergabung di TNI.

Persaingan di jalur ini sangatlah sengit. Alwi harus berhadapan dengan sekitar 3.000 pelamar dari berbagai universitas elit dan ternama di Indonesia.

Dengan bekal skill yang ia asah selama kuliah di UNM yang memang terkenal sebagai Kampus Digital Bisnis, Alwi tampil memukau.

Ia berhasil meraih peringkat pertama di kelompoknya pada asesmen tahap awal dengan nilai 96, dengan rata-rata nilai kelulusan di tahap itu 80. Pada akhirnya, ia terpilih menjadi satu dari 50 orang yang lolos sampe babak akhir dan resmi dilantik menjadi perwira.

Keberhasilan ini melahirkan prinsip yang selalu ia pegang teguh: "Jangan hidup di bawah nama besar kampus, tapi kitalah yang harus menghidupkan nama kampus tersebut”. Baginya, kualitas individu dan skill nyata jauh lebih berbicara di lapangan daripada sekadar label almamater.

Kontribusi dan Visi Masa Depan

Kini, bertempat di Mabes TNI, Alwi memegang tanggung jawab strategis dalam menguji dan mengamankan sistem keamanan data militer sebelum dipublikasikan. Namun, pengabdiannya tidak berhenti di seragam dinas.

Meski sudah menjadi alumni, tapi ia masih berkontribusi untuk almamaternya, menjadi Ketua Komunitas Cyber Security di UNM yakni NMCC (Nusa Mandiri Cyber Community), Alwi memiliki visi untuk terus berbagi ilmu.

Ia ingin meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya keamanan siber dan membantu adik-adik tingkatnya di kampus untuk memiliki kompetensi yang sangar di dunia IT.

Kisah Letda Alwi Al Hadad adalah pengingat bagi setiap anak muda: bahwa zona nyaman merupakan musuh kemajuan, dan kegagalan hanyalah proses "pembaharuan sistem" menuju kesuksesan yang lebih besar.

Read Entire Article
Politics | | | |