Letjen Agus Widjojo Wafat, LHS: Jenderal Perumus Paradigma Baru TNI

3 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Duta Besar Republik Indonesia untuk Filipina, Letnan Jenderal TNI (Purn) Agus Widjojo, meninggal dunia di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta, Ahad (8/2/2026) pukul 20.15 WIB. Almarhum mengembuskan napas terakhirnya setelah dikenal luas sebagai prajurit intelektual, pemikir reformasi militer, sekaligus negarawan yang konsisten menjaga nilai demokrasi.

Kabar duka tersebut diterima Republika melalui pesan WhatsApp keluarga. Dalam pesan itu disampaikan, “Innalillahi wainnailaihi rajiun. Allahummaghfirlahu warhamhu wa‘afihi wa‘fuanhu. Telah berpulang ke rahmatullah pada Minggu, 8 Februari 2026, pukul 20.15 WIB di RSPAD Gatot Subroto, suami/Papa/Bapak kami, Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo, Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Republik Filipina, merangkap Republik Kepulauan Marshall dan Republik Palau.”

Menteri Agama RI ke-22 sekaligus tokoh Gerakan Nurani Bangsa, Lukman Hakim Saifuddin, mengenang Agus Widjojo sebagai sosok langka di tubuh militer Indonesia. “Dialah jenderal intelektual dan arsitek yang bersama Jenderal Susilo Bambang Yudhoyono pada 1998 merumuskan Paradigma Baru TNI sebagai konsepsi reformasi TNI,” ujar Lukman dalam keterangannya pada Senin (9/2/2026).

Peran intelektual Agus Widjojo tidak berhenti pada fase reformasi militer. Saat menjabat Wakil Ketua MPR RI periode 2001–2003, almarhum memimpin Fraksi TNI/Polri untuk bersikap terbuka terhadap perubahan konstitusi. “Dia pula yang, kala menjadi Wakil Ketua MPR, memimpin Fraksi TNI/Polri untuk kooperatif dan proaktif dalam proses Perubahan UUD 1945,” kata Lukman.

Agus Widjojo juga dikenal kritis terhadap praktik-praktik penugasan non-militer yang dibebankan kepada TNI. Ia pernah menyampaikan pandangan tegas bahwa banyak peran di luar profesi kemiliteran yang ‘dititipkan’ kepada TNI justru berpotensi merusak profesionalitas institusi tersebut. “Menurut beliau, penugasan seperti itu tidak hanya mengganggu profesionalitas TNI, tetapi juga berimplikasi pada kehidupan demokrasi di Indonesia,” tutur putra ulama NU KH Saifuddin Zuhri tersebut.

Di luar kiprahnya sebagai perwira tinggi, kepedulian Agus Widjojo terhadap rekonsiliasi sejarah bangsa juga menjadi catatan penting. Meski ayahnya, Mayjen Sutoyo Siswomiharjo, merupakan salah satu korban tragedi G30S 1965, Agus Widjojo tetap menunjukkan sikap inklusif dan kemanusiaan. “Bersama almarhum Taufik Kiemas, beliau pada 2003 menjadi penasihat Forum Silaturahim Anak Bangsa (FSAB), wadah yang mempertemukan anak-anak para tokoh yang terlibat konflik politik 1965,” ujar Lukman.

Read Entire Article
Politics | | | |