Mengejar Lailatul Qadar di Masjid Jogokariyan

9 hours ago 8

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA - Selama 10 hari terakhir di bulan suci Ramadhan, umat Islam berlomba-lomba meningkatkan ibadah, salah satunya melalui itikaf. Di Yogyakarta, Masjid Jogokariyan kembali menjadi salah satu pusat kegiatan itikaf yang menyedot perhatian jamaah dari berbagai daerah di Indonesia.

Tahun ini, antusiasme masyarakat untuk mengikuti itikaf di Masjid Jogokariyan terbilang sangat tinggi. Program yang dikelola secara sistematis ini menghadirkan dua jalur, yakni jalur reguler atau terdaftar dan jalur mandiri yang dibuka untuk umum dengan sejumlah aturan.

Koordinator Divisi Itikaf Kampung Ramadhan Jogokariyan, Ajis Setiawan, menjelaskan, kegiatan itikaf di masjid tersebut telah berlangsung sejak tahun 2004. Program ini diinisiasi oleh Ustaz Jazir, Abah Fani, bersama para remaja masjid, dan terus berjalan hingga kini.

"Alhamdulillah sampai sekarang masih dilaksanakan. Antusiasme jamaah luar biasa besar, terutama untuk peserta yang terdaftar," ujar Ajis saat berbincang dengan Republika, Rabu (18/3/2026).

Pendaftaran itikaf reguler bahkan telah dibuka sejak Januari. Kuota tahun ini dibatasi sebanyak 80 peserta, terdiri dari 50 ikhwan (putra) dan 30 akhwat (putri). Menariknya, kuota peserta putri langsung penuh hanya dalam waktu 11 menit sejak pendaftaran dibuka.

Ajis mengatakan, hal ini menunjukkan tingginya minat umat Islam untuk memanfaatkan 10 malam terakhir Ramadhan dengan beribadah secara lebih khusyuk.

Meski pada dasarnya itikaf mendorong ibadah secara individu, Ajis menyampaikan bahwa Masjid Jogokariyan tetap menyediakan berbagai program pendukung. Kegiatan dimulai dari pagi hingga malam hari, mencakup tahsin Al-Qur’an, kajian kitab atau tematik setelah zuhur, hingga rangkaian kegiatan Kampung Ramadan seperti kajian berbuka, salat tarawih, dan qiyamul lail.

"Sebagian kegiatan dilakukan berjamaah, sebagian lagi mandiri agar jamaah tetap bisa berinteraksi secara personal dengan Allah," ucapnya.

Dari sisi fasilitas, peserta itikaf terdaftar mendapatkan tempat istirahat di aula lantai dua dan tiga yang dilengkapi kasur dan pendingin ruangan. Kebutuhan makan seperti sahur, berbuka, dan camilan juga disediakan oleh panitia.

Ajis menjelaskan, mayoritas peserta itikaf tahun ini justru berasal dari luar Yogyakarta atau mencapai sekitar 90 persen. Peserta itikaf pun datang dari latar belakang yang beragam, mulai dari anak usia sekolah dasar hingga lansia berusia hampir 80 tahun. Ada yang datang sendiri, bersama teman, hingga bersama keluarga.

Menurutnya, belum banyaknya masjid di daerah lain yang mengelola itikaf secara terstruktur selama 10 hari penuh menjadi salah satu alasan jamaah beritikaf di Jogokariyan. "Saya juga tanya di peserta yang lain itu, kebanyakan masjid di malam hari itu masih dikunci atau masih gelap, sehingga mereka merasa kurang nyaman dan kurang tenang. Mungkin mereka mencari informasi lalu salah satu pilihannya adalah Masjid Jogokariyan, walaupun di Yogyakarta juga sudah banyak beberapa masjid yang mengadakan acara itikaf seperti itu," ucap Ajis.

Ajis menyampaikan harapannya agar kesadaran umat Muslim terhadap keutamaan 10 hari terakhir Ramadhan ke depan semakin meningkat. Menurutnya, itikaf tidak harus dilakukan dalam waktu lama.

"Harapannya kepada semua muslim dan muslimah untuk lebih sadar terkait 10 hari terakhir ini. Diusahakan bisa itikaf, walaupun hanya satu atau dua jam. Itu pun sudah boleh jika diniatkan itikaf,," ungkapnya.

Read Entire Article
Politics | | | |