Mengubah Lapar Menjadi Solidaritas Sosial

2 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Dr. Yuli Utami, S.Ag., M.Ec (Dosen Prodi Ekonomi FEB UMY)

Seringkali, tanpa kita sadari, kita terjebak dalam rutinitas ibadah yang dangkal. Kita menjadikan puasa sekadar sebagai ritual tahunan yang prosedural—sebuah kewajiban lahiriah yang harus ditunaikan untuk menggugurkan beban hukum syariat semata.

Memang benar, secara fisik kita berpuasa. Kita menahan diri dari makan dan minum dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Namun, apakah lidah kita juga terjaga dari menggunjing, berkata kotor, dan berbohong? Ataukah hati kita masih terkotori dengan iri, dengki, dan kesombongan?

Ingatlah peringatan dari Rasulullah SAW: "Betapa banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali rasa lapar dan haus saja." (HR. Ibnu Majah)

Hadis ini menjadi tamparan keras bagi kita yang hanya mengejar kuantitas hari berpuasa, namun mengabaikan kualitasnya. Itulah mengapa, Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin membagi puasa menjadi tiga tingkatan, dan yang terendah adalah puasa orang awam, yaitu hanya menahan lapar dan dahaga, namun anggota tubuh lainnya tidak ikut berpuasa dari perbuatan maksiat.

Mari kita jujur kepada diri kita sendiri. Pernahkah kita berhenti sejenak untuk merenung di tengah lelahnya menahan lapar? Sudahkah ibadah puasa yang kita lakukan bertahun-tahun ini benar-benar meresap ke dalam lubuk hati terdalam dan mengubah perilaku kita menjadi lebih baik?

Ataukah, puasa kita sejatinya hanya sekadar memindahkan jam makan—yang biasa siang menjadi malam—tanpa ada transformasi spiritual yang membekas dalam kehidupan sehari-hari?

Jika kita mengingat kembali perintah kewajibah puasa dalam Al-Baqarah ayat 183, maka kita harus menyadari bahwa tujuan akhir dari puasa adalah ketakwaan.

Takwa yang di antara makna awalnya berarti takut, bukanlah sekadar takut tidak mampu menyelesaikan puasa hingga akhir, melainkan takut melakukan maksiat dan tumbuh rasa kasih sayang kepada sesama makhluk Allah.

Puasa seharusnya menumbuhkan empati dan kepedulian sosial, bukan egoisme. Namun, banyak orang lebih fokus pada kemewahan berbuka, sementara saudara lain berjuang melawan lapar. Ini menunjukkan krisis makna puasa. Puasa hakiki bukan sekadar menahan lapar, tetapi madrasah jiwa yang mengasah empati dan kepekaan sosial.

Rasulullah SAW adalah teladan terbaik dan puncak kesempurnaan dalam hal ini. Beliau adalah manusia yang paling dermawan, bahkan ketika dalam keadaan kekurangan sekalipun. Namun, istimewanya, kedermawanan beliau meningkat pesat layaknya angin yang berhembus kencang membawa keberkahan di bulan Ramadhan.

Kedermawanan Nabi Muhammad SAW tercermin dalam totalitas beliau membantu sesama. Beliau memberi bukan hanya saat memiliki kelebihan, tetapi bahkan mendahulukan kebutuhan orang lain. Seperti angin yang membawa kesejukan ke mana pun bertiup, demikian pula seharusnya puasa kita: menghadirkan manfaat, meringankan beban, dan menebar kebahagiaan tanpa diskriminasi.

Puasa hanyalah latihan. Empati yang tumbuh di Ramadhan harus dijaga sepanjang tahun melalui kebiasaan berbagi, hidup sederhana, dan kepekaan sosial. Puasa bukan sekadar ibadah individual, tetapi madrasah sosial yang membentuk manusia bertakwa dan peduli. Ujian sesungguhnya adalah menjaga nilai kepedulian itu dalam kehidupan sehari-hari agar kita konsisten menjadi rahmat bagi sesama.

Read Entire Article
Politics | | | |