Seni Bertahan di Tengah Krisis: Jawaban Alquran atas Ketakutan Manusia Modern

4 hours ago 8

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Krisis hari ini tidak selalu berbentuk perang atau paceklik. Ia hadir dalam wujud yang lebih sunyi: kecemasan berkepanjangan, tekanan ekonomi, kompetisi sosial yang tak kenal jeda, dan rasa takut tertinggal dalam arus zaman. Manusia modern hidup dalam limpahan informasi, tetapi sering kekurangan ketenangan. Dalam situasi demikian, Al-Qur’an tidak sekadar menawarkan penghiburan, melainkan fondasi ketahanan jiwa.

Tiga ayat berikut memberi kita kerangka bertahan, tentang batas kemampuan, janji kemudahan, dan kekuatan tawakal.

Batas Kemampuan: Allah Tidak Membebani di Luar Daya

Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 286:

لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا ٱكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَآ إِن نَّسِينَآ أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُۥ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِۦ ۖ وَٱعْفُ عَنَّا وَٱغْفِرْ لَنَا وَٱرْحَمْنَآ ۚ أَنتَ مَوْلَىٰنَا فَٱنصُرْنَا عَلَى ٱلْقَوْمِ ٱلْكَـٰفِرِينَ

lā yukallifullāhu nafsan illā wus’ahā, lahā mā kasabat wa ‘alaihā maktasabat, rabbanā lā tu`ākhiżnā in nasīnā au akhṭa`nā, rabbanā wa lā taḥmil ‘alainā iṣrang kamā ḥamaltahụ ‘alallażīna ming qablinā, rabbanā wa lā tuḥammilnā mā lā ṭāqata lanā bih, wa’fu ‘annā, wagfir lanā, war-ḥamnā, anta maulānā fanṣurnā ‘alal-qaumil-kāfirīn

286. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”.

Menurut penjelasan Ath-Tabari, frasa “illā wus‘ahā” menegaskan bahwa beban syariat berada dalam batas kemampuan riil manusia, bukan menurut persepsi kita yang sering kali rapuh, tetapi menurut ilmu Allah yang Mahatahu. Tidak ada perintah yang mustahil secara hakiki.

Imam Fakhr al-Din al-Razi dalam Mafātīḥ al-Ghayb menguraikan bahwa membebani di luar kemampuan bertentangan dengan keadilan dan hikmah Allah. Karena itu, ayat ini sekaligus dalil teologis tentang keadilan Ilahi. Bahkan secara psikologis, ayat ini mengoreksi kecenderungan manusia yang kerap merasa “terlalu berat”. Boleh jadi yang terasa berat itu justru tanda kapasitas yang sedang diperluas.

Di tengah tekanan hidup, ayat ini seperti penegasan yang menenangkan: jika ujian itu datang, maka di dalam diri kita telah tersedia daya untuk menanggungnya.

Read Entire Article
Politics | | | |