Menjaga Kontinuitas Ibadah Paska Ramadhan

15 hours ago 4

Image Hamdani

Agama | 2025-04-04 22:18:30

Masjid yang sangat indah di Uni Emirat Arab (UEA)/Net

Orang-orang beriman harus tetap berusaha melaksanakan shalat lima waktu berjamaah sebagaimana kebiasaan yang telah dilakukan selama Ramadhan. Untuk menjaga konsistensi dan kontinuitas ibadah paska ramadhan, maka waktu shalat jumat pun perlu diperhatikan dengan datang lebih awal ke masjid, bukan menunggu hingga azan berkumandang atau imam naik ke mimbar baru berangkat menuju masjid.

Dosen Luar Biasa UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Tgk Didi Wahyudi menyampaikan hal itu dalam khutbah Jumat di Masjid Al-Hidayah Dusun Meusara Agung, Gampong Gue Gajah, Kecamatan Darul Imarah, 4 April 2025 bertepatan dengan 5 Syawal 1446 H kemarin.

Ia menguraikan, kebiasaan tilawah Al-Qur’an juga harus terus dilanjutkan. Jika selama Ramadhan kita mampu khatam Al-Qur’an, maka setelahnya kita juga bisa melanjutkan dengan membaca dan menghafalkannya secara rutin. Puasa sunnah pun dapat menjadi sarana untuk menjaga semangat ibadah, seperti puasa Syawal, Senin - Kamis atau Ayyamul Bidh (tanggal 13, 14, 15 setiap bulan Hijriah).

“Selain itu, semangat berbagi dan beramal sosial juga harus tetap hidup dalam kehidupan sehari-hari. Sedekah, infak, dan kepedulian terhadap sesama hendaknya tetap menjadi bagian dari diri kita, sebagaimana yang telah kita lakukan selama Ramadhan,” ungkapnya.

Anggota Korps Dai IKADI Aceh ini menyampaikan, dengan izin Allah, kita telah menjalani ibadah puasa di bulan suci Ramadhan. Bulan yang penuh berkah ini memberikan pengalaman spiritual yang luar biasa bagi kaum Muslimin. Sejak malam pertama, semangat ibadah begitu terasa, shalat fardhu dan tarawih dilaksanakan dengan penuh kekhusyukan, masjid-masjid dipenuhi jamaah, dan sahur bersama keluarga menjadi momen kebersamaan yang berharga.

“Di siang hari, aktivitas pekerjaan tetap berjalan dengan penuh semangat. Menjelang waktu Zuhur, kita bersegera menuju masjid untuk shalat berjamaah,” ujarnya. Ia menambahkan, begitu juga dengan berbagai program ibadah yang dijalankan: shalat tarawih, qiyam Ramadhan (qiyamullail), i’tikaf, khatam Al-Qur’an, muraja’ah kitab dan hafalan, serta berbagai amal sosial seperti bersedekah, menyantuni anak yatim, dan berbagi makanan berbuka puasa. Semua ini menjadi wujud dari semangat ibadah yang luar biasa selama Ramadhan.

Menurut Tgk Didi Wahyudi, Ramadhan yang benar-benar berkesan adalah bagi mereka yang memiliki program ibadah yang jelas dan dijalankan dengan sungguh-sungguh. Sebaliknya, bagi mereka yang hanya berpuasa tanpa memiliki target ibadah yang ingin dicapai,

Ramadhan akan terasa biasa saja dan berlalu begitu saja. Jika seseorang merasa bahwa Ramadhan tahun ini sama saja dengan tahun-tahun sebelumnya tanpa ada peningkatan, maka itu menandakan bahwa ia belum memahami hakikat waktu yang terus berganti dan peluang yang diberikan Allah.

“Bayangkan jika untuk memasuki bulan suci Ramadhan kita harus membayar biaya tertentu, berapa yang harus kita keluarkan, namun, Allah Yang Maha Pemurah memberikan kesempatan ini secara cuma-cuma sebagai bentuk kasih sayang-Nya kepada hamba-hamba-Nya,” ungkap Imam Gampong Blang Oi, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh, ini.

Pada bagian lain khutbahnya, Tgk Didi Wahyudi menyampaikan, kini Ramadhan telah berlalu, namun bagaimana agar semangat ibadah tetap terjaga, bahkan meningkat. Kuncinya adalah memahami ibadah kita harus berlandaskan tauhid kepada Allah. Sebagaimana firman-Nya: "Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Adz-Dzariyat: 56)

“Islam mengajarkan bahwa tujuan utama kehidupan kita beribadah kepada Allah. Oleh karena itu, ibadah yang kita lakukan selama Ramadhan seharusnya terus berlanjut di bulan-bulan berikutnya,” tegasnya.

Allah Swt berfirman: "Barang siapa yang mengerjakan kebajikan, maka (pahala) untuk dirinya sendiri, dan barang siapa yang berbuat kejahatan, maka (dosanya) menjadi tanggungan dirinya sendiri." (QS. Fushshilat: 46)

Setiap amal perbuatan yang kita lakukan akan kembali kepada diri kita sendiri. Nabi Muhammad saw telah mengajarkan umatnya untuk selalu berbuat kebaikan, dan kebaikan itu akan membawa manfaat bagi mereka yang mengamalkannya. Sebaliknya, orang-orang yang menolak dakwah Nabi justru menanggung keburukan akibat penolakannya.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Politics | | | |