Merancang Solusi Nyata untuk 'Polusi Kampung' dari Kacamata Rekayasa Manufaktur

1 day ago 14

Image Yudaa Achmad

Teknologi | 2026-07-14 00:12:36

Sebagai mahasiswa Teknologi Rekayasa Manufaktur, keseharian saya identik dengan merancang prototipe, menganalisis kekuatan material, dan menghitung efisiensi produksi berskala industri. Mindset saya dilatih untuk berpikir bagaimana sebuah mesin dapat bekerja seefisien mungkin dengan output maksimal dan waste (limbah) minimal. Semuanya terpusat pada presisi pabrik dan otomasi.

Namun, cara pandang itu seketika bergeser ketika saya mengikuti program pengabdian masyarakat di Desa Kertosono, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik. Di sana, saya dihadapkan pada realita waste management yang sangat konvensional dan, dari kacamata engineering, sangat tidak efisien. Masyarakat desa terbiasa dengan metode pembakaran sampah secara terbuka (open burning).

Bagi warga, membakar sampah adalah solusi paling praktis untuk menghilangkan tumpukan limbah organik rumah tangga. Sayangnya, dari kacamata rekayasa, open burning adalah sebuah proses yang gagal. Pembakaran terbuka menghasilkan suhu yang tidak terkontrol, sirkulasi oksigen yang buruk, dan berujung pada emisi gas buang berupa asap pekat. Asap ini tidak hanya mencemari udara, tetapi juga mengganggu kesehatan warga saat arah angin membawanya ke area permukiman. Energi panas yang dihasilkan pun terbuang sia-sia tanpa value tambahan.

Di sinilah saya menyadari bahwa ilmu manufaktur tidak selamanya harus diimplementasikan pada mesin-mesin raksasa di kawasan industri. Terkadang, engineering yang paling dibutuhkan masyarakat adalah solusi perancangan yang sederhana, menggunakan material yang mudah didapat, namun mampu memberikan dampak signifikan terhadap kualitas hidup. Jawaban untuk masalah di desa Kertosono ini adalah Rocket Stove.

Ilmu manufaktur tidak selamanya harus diimplementasikan pada mesin raksasa. Terkadang, engineering yang paling dibutuhkan masyarakat adalah desain tungku sederhana yang mampu mengurai masalah polusi kampung.

Bersama tim KKN, saya mengaplikasikan prinsip rekayasa manufaktur untuk merancang dan membangun fasilitas Rocket Stove berdimensi 75x50x200 cm. Kami memilih material bata ringan (hebel) dan bata tahan api (refraktori) bukan tanpa alasan; material ini memiliki ketahanan termal yang baik dan cost-effective. Konsep utama dari tungku ini adalah memanipulasi airflow dan desain ruang bakar.

Sistem ini kami rancang dengan memisahkan area pembakaran menjadi ruang bakar primer dan sekunder. Aliran udara masuk yang terkontrol menciptakan gaya dorong ke atas yang kuat menuju cerobong asap. Hasilnya? Suhu pembakaran meningkat drastis, sehingga proses termal berlangsung jauh lebih sempurna (complete combustion). Sampah organik rumah tangga, ranting, hingga sekam padi dapat terbakar habis dengan cepat, dan yang terpenting nyaris tanpa asap (smokeless).

Proyek di Desa Kertosono ini memberikan saya pelajaran berharga melampaui kurikulum di kelas. Ini bukan sekadar tentang membangun tungku bata setinggi dua meter. Ini adalah proses mentransfer logic of engineering kepada masyarakat pedesaan. Kami tidak hanya menyerahkan alat, tetapi juga mengedukasi warga, mendemonstrasikan cara kerjanya, hingga menyusun SOP berupa buku panduan agar fasilitas ini sustainable.

Pada akhirnya, kebanggaan sejati seorang mahasiswa rekayasa manufaktur bukan hanya saat berhasil merancang mesin berteknologi tinggi di atas kertas blueprint. Kebanggaan itu hadir ketika melihat warga Desa Kertosono kini bisa mengelola sampah mereka tanpa harus batuk-batuk karena asap pekat, membuktikan bahwa inovasi teknik yang baik adalah inovasi yang benar-benar membumi dan memanusiakan penggunanya. Penulis: Javier Fairuz Hafizh - Mahasiswa Teknik Rekayasa Manufaktur

Dosen Pembimbing Lapangan: (Daffa Dwi Sri Diyanti, S.Psi., M.Psi.,)

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
Politics | | | |