REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID menggunakan film dokumenter The MINDJourney untuk menjelaskan hilirisasi mineral kepada publik. Langkah ini ditempuh di tengah masih kuatnya stigma terhadap industri pertambangan yang kerap dilihat hanya dari sisi dampak lingkungan dan perubahan bentang alam.
Film yang ditayangkan perdana dalam acara Silaturahmi Grup MIND ID, Rabu (1/4/2026), itu merekam perjalanan pengelolaan mineral dari tahap prapenambangan, operasional penambangan, hingga pascatambang. Dokumenter tersebut juga menampilkan bagaimana proses hilirisasi dibangun untuk mendorong nilai tambah mineral di dalam negeri.
Direktur Utama MIND ID Maroef Sjamsoeddin mengatakan, film itu disiapkan untuk memperlihatkan cara kerja anggota holding dalam satu ekosistem industri sekaligus memberi gambaran yang lebih utuh mengenai praktik pertambangan yang dijalankan.
“Melalui film ini, kami ingin menghadirkan satu media yang dapat memperlihatkan bagaimana seluruh anggota holding MIND ID bekerja dalam satu payung yang sama,” ujar Maroef di Jakarta, dikutip Kamis (2/4/2026).
Ia menjelaskan, dokumenter tersebut dimaksudkan untuk membuka pemahaman publik mengenai praktik pertambangan yang tidak berhenti pada kegiatan eksplorasi atau produksi semata, melainkan mencakup keseluruhan siklus pengelolaan tambang. Dalam film itu, MIND ID menampilkan proses dari tahap perencanaan, operasional, hingga pengelolaan pascatambang.
Pilihan menggunakan medium film juga memperlihatkan upaya perusahaan membawa isu industri ke ruang yang lebih dekat dengan masyarakat. Sektor pertambangan kerap dinilai hanya dari dampak visual di permukaan, padahal di dalamnya terdapat rantai pengelolaan, proses pemulihan, pengolahan mineral, hingga efek ekonomi yang menjangkau wilayah sekitar operasi.
“Memang kegiatan pertambangan mengubah permukaan, namun jika dijalankan dengan kaidah yang benar, pengelolaan tambang dapat memberikan manfaat besar bagi lingkungan dan masyarakat,” jelas Maroef.
Salah satu pesan utama dalam dokumenter tersebut ialah pentingnya hilirisasi. MIND ID menyoroti masih adanya komoditas mineral Indonesia yang keluar tanpa pengolahan maksimal, sehingga nilai ekonominya justru lebih besar dinikmati di luar negeri.
Gambaran itu diperlihatkan melalui rantai pengolahan bauksit menjadi alumina lalu aluminium. Dari rantai tersebut, nilai bijih bauksit mentah yang semula sekitar 40 dolar AS per ton dapat meningkat menjadi sekitar 400 dolar AS per ton alumina, lalu naik menjadi sekitar 2.800 hingga 3.000 dolar AS per ton aluminium.
Nilai tambah itu dinilai belum berhenti pada produk dasar. Aluminium yang diolah lebih lanjut dapat masuk ke berbagai kebutuhan industri, seperti rangka baterai, badan kendaraan listrik, hingga komponen berteknologi tinggi yang memiliki nilai ekonomi lebih besar.
Dalam konteks itu, hilirisasi dipandang bukan sekadar agenda pengolahan mineral, tetapi juga bagian dari strategi industrialisasi nasional. Proses tersebut dikaitkan dengan penguatan daya saing industri, penciptaan lapangan kerja, pertumbuhan UMK, hingga peningkatan kontribusi ekonomi di dalam negeri.
Maroef menuturkan, pengelolaan sumber daya mineral yang terintegrasi perlu diarahkan untuk memberi manfaat lebih luas bagi pembangunan nasional. Menurut dia, kekayaan mineral Indonesia tidak cukup hanya diangkat dari perut bumi, tetapi harus diolah agar memberi nilai tambah di dalam negeri.
“Kekayaan sumber daya mineral yang dimiliki Indonesia harus dapat dikelola secara optimal agar memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat,” tegas Maroef.
Film ini diproduksi oleh tim yang dipimpin produser sekaligus sutradara The MindJourney, Ari Sihasale. Ia mengatakan, dokumenter tersebut disusun berdasarkan pengalaman langsung tim selama melakukan peliputan di sejumlah wilayah operasi pertambangan anggota Grup MIND ID.

2 hours ago
3
















































