REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Latihan militer gabungan di laut selalu lebih dari sekadar manuver teknis. Ia adalah pesan. Dan pekan ini, pesan itu dikirim dari perairan paling sensitif di dunia.
Di tengah negosiasi nuklir yang kembali tersendat, Iran dan Rusia memulai latihan angkatan laut bersama di Teluk Oman dan Samudra Hindia bagian utara, wilayah yang berdekatan dengan Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sepertiga pasokan minyak dan gas alam cair global.
Latihan ini dipimpin oleh Laksamana Muda Hassan Magsoudlu dan secara resmi disebut bertujuan “memperkuat keamanan maritim.” Namun waktunya sulit dianggap kebetulan. Hanya beberapa hari sebelumnya, pembicaraan tidak langsung antara Teheran dan Amerika Serikat di Jenewa berakhir tanpa terobosan berarti, sebagaimana diberitakan Euronews.
Di atas permukaan laut, kapal-kapal perang bergerak dalam formasi. Di bawahnya, geopolitik sedang memanas.
Diplomasi yang Berjalan di Atas Bara
Putaran kedua pembicaraan yang dimediasi Oman memang melaporkan “tanda-tanda positif”. Gedung Putih pun mengakui adanya kemajuan terbatas. Namun pernyataan juru bicara Karoline Leavitt bahwa “kita masih sangat jauh berbeda pendapat” menjadi penanda realitas: jarak kepercayaan masih lebar.
Strategi Washington tampak berjalan di dua jalur paralel, diplomasi dan tekanan militer. Presiden Donald Trump memperkuat kehadiran angkatan laut AS di kawasan. Gugus tempur kapal induk USS Abraham Lincoln telah beroperasi di wilayah tersebut. Kelompok kedua yang dipimpin USS Gerald R. Ford bergerak menuju Mediterania dan Teluk Persia.
Jika kedua formasi ini berada dalam posisi operasional penuh pada pertengahan Maret, Washington akan memiliki daya tembak yang signifikan di lepas pantai Iran.
Namun hingga kini, belum ada perintah serangan. Diskusi di Gedung Putih disebut masih berlangsung, menimbang risiko eskalasi versus risiko dianggap lemah.
Selat Hormuz: Nadi Energi Dunia
Secara paralel dengan latihan Rusia-Iran, Korps Garda Revolusi Islam Iran juga menggelar manuver sendiri di Selat Hormuz. Teheran bahkan sempat menutup sebagian jalur tersebut selama beberapa jam dengan alasan keamanan.
Iran memang tidak pernah benar-benar memblokir Selat Hormuz. Tetapi ancaman penutupan saja sudah cukup untuk mengguncang pasar energi global. Jalur air sempit ini bukan sekadar simbol kekuatan; ia adalah nadi ekonomi dunia.
Setiap eskalasi militer di sini otomatis menjadi krisis internasional.
Preseden Perang 12 Hari
Konteks hari ini tak bisa dilepaskan dari perang 12 hari antara Israel dan Iran pada Juni lalu, di mana Amerika Serikat turut terlibat dalam serangan terhadap fasilitas nuklir Iran. Kerusakan yang ditimbulkan disebut signifikan, namun tidak mematikan program tersebut sepenuhnya.

3 hours ago
4















































