REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indonesia sedang berada di tikungan sejarah menuju kemandirian pangan yang absolut. Setelah keberhasilan fenomenal mencapai swasembada beras pada 2025 yang diumumkan Presiden Prabowo Subianto di Karawang, kini bidikan pemerintah meluas ke komoditas strategis lainnya: bawang putih dan jagung.
Dalam peta jalan swasembada 2026–2030, Nusa Tenggara Barat (NTB) ditetapkan sebagai pilar utama sekaligus basis industri pakan ternak nasional. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa penetapan NTB sebagai wilayah strategis bukanlah kebetulan geografis semata.
"NTB adalah pusat pengembangan komoditas nasional untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus kesejahteraan petani," ujar Mentan saat meninjau hamparan lahan di Kecamatan Sembalun, Lombok Timur, Senin (9/2).
Potensi Lahan dan Revolusi Mindset
Data Kementerian Pertanian menunjukkan NTB memiliki modalitas lahan bawang putih seluas 7.750 hektare. Lombok Timur memimpin dengan potensi 2.500 hektare, disusul Lombok Utara (2.000 ha), Bima (1.500 ha), Sumbawa (1.000 ha), dan Lombok Tengah (750 ha). Namun, bagi Mentan Amran, kekayaan lahan saja tidak cukup tanpa adanya revolusi mental di tingkat lapangan.
Ia menekankan bahwa swasembada adalah soal etos kerja. Pesan tajam pun dikirimkan kepada para Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL). “PPL jangan pernah kena sinar matahari di rumah. Bangunkan lahan tidur, bangunkan pemuda. Jika mindset berubah, hidup masyarakat NTB akan berubah sejahtera,” tegasnya. Dukungan penuh pun diberikan: seluruh benih bawang putih disediakan secara gratis oleh negara.
Hilirisasi: Jagung dan Pabrik Pakan
Sisi lain dari strategi NTB adalah penguatan komoditas jagung. Pemerintah tidak ingin petani hanya sekadar menanam, tapi juga mendapatkan kepastian pasar. Solusinya adalah hilirisasi melalui pembangunan pabrik pakan ternak di NTB.
Pabrik ini diproyeksikan menjadi penyerap utama hasil panen jagung lokal, memutus rantai pasok yang panjang, dan menjaga stabilitas harga di tingkat produsen. Dengan industri pakan di dalam wilayah, NTB akan bertransformasi dari sekadar lumbung mentah menjadi hub agroindustri yang terintegrasi.
Mengakhiri Hegemoni Impor
Ambisi pemerintah ini mendapat dukungan kuat dari legislatif. Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Hariyadi (Titiek Soeharto) mendorong agar energi swasembada tidak berhenti pada beras. Menurutnya, komoditas yang tingkat ketergantungan impornya tinggi, seperti bawang putih dan kedelai, harus segera ditangani secara serius.
“Terutama bawang putih ya, impornya banyak sekali. Yang menikmati impor-impor itu kemarin sudah kebanyakan. Sekarang saatnya kita benar-benar kerja untuk rakyat,” ujar Titiek dalam sebuah diskusi di Jakarta, Sabtu (7/2).
sumber : Antara

3 hours ago
7















































