REPUBLIKA.CO.ID, CIMAHI - Pelayanan penarikan sampah di Kota Cimahi, Jawa Barat kembali normal setelah libur pada 23 dan 24 Maret 2026. Selama dua hari itu, Pemkot Cimahi melakukan pembersihan sampah yang sudah menumpuk di setiap Tempat Pembuangan Sampah (TPS) di Kota Cimahi.
Wakil Wali Kota Cimahi Adhitia Yudisthira mengatakan, selama proses clean up itu sampah yang dibuang dari 12 TPS ke TPA Sarimukti di Kabupaten Bandung Barat (KBB) mencapai sekitar 370 ton. Pengiriman itu menggunakan jatah dua mingguan yang ditetapkan Pemprov Jabar untuk Kota Cimahi.
"Untik proses clean up kota Cimahi terpaksa meminjam jatah ritase sua mingguan sebanyak 370 ton. Sehingga sisa kuota dua mingguan tinggal 1.200 ton atau apabila dirata-rata hanya dapat membuang 85 ton per hari," kata Adhitia saat dikonfirmasi, Rabu (25/3/2026).
Adhitia mengatakan, pelayanan penarikan sampah dari wilayah kini sudah berjalan normal sesuai jadwal. Sesuai jadwal, penarikan sampah akan dipisah antara organik dengan anorganik. Pemkot Cimahi menegaskan warga harus memilah sampah di rumahnya masing-masing.
Pemkot Cimahi juga bakal mengoptimalkan TPS 3R dan TPST untuk mengolah sampah organik dan anorganik secara mandiri untuk menekan volume residu yang dikirim ke TPA Sarimukti secara signifikan. Apalagi Pemkot Cimahi memiliki target zero sampah yang dibuang ke TPA.
"Kami juga mewajibkan kelurahan mengoptimalkan peran Bank Sampah dalam menyerap sampah anorganik bernilai ekonomi serta mengaktifkan linmas dalam penjagaan dan pengamanan area dari pembuangan sampah liar dan berkoordinasi dengan Satpol PP dalam hal penegakan Perda untuk pembuangan sampah liar," kata Adhitia.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Cimahi, Chanifah Listyarini mengatakan, penumpukan itu disebabkan adanya peningkatan produksi sampah sepanjang bulan suci Ramadhan. Produksi sampah yang dihasilkan masyarakat di Kota Cimahi hanya sekitar 250 ton per hari. Namun di bulan Ramadhan ini naik hingga 40 persen.
"Sangat tinggi, peningkatannya sangat tinggi. Peningkatan sampah kurang lebih di angka hampir 30-40 persen. Sekarang bisa 300 ton lebih setiap hari di bulan puasa ini," kata Chanifah.
Hasil analisa, kata dia, meningkatnya produksi sampah di bulan Ramadhan ini ternyata bukan hanya karena naiknya konsumsi masyarakat terhadap makanan dan minuman. Peningkatan produksi sampah juga karena Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibawa pulang ke rumah di bulan puasa ini.
"Kan semuanya berkemasan, nah ini juga punya efek. Kemarin kami sempat melakukan survei kecil-kecilan, ngobrol dengan salah satu RT, awalnya volumenya kurang 9 gerobak. Tetapi begitu MBG ini tidak dimakan di sekolah selama bulan Ramadhan karena dibagikan dan dibawa pulang, sampahnya naik lagi menjadi 12-13 gerobak," kata Chanifah.
Melonjaknya produksi sampah itu tidak sebanding dengan kuota pembuangan ke TPA Sarimukti yang dibatasi sesuai Surat Edaran (SE) Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Barat Nomor: 6174/PBLS.04/DLH perihal Peringatan dan Pembatasan Pembuangan Sampah ke TPPAS Regional Sarimukti, kiriman sampah dari Kota Cimahi dibatasi maksimal 1.668 ton per dua minggu.
"Sementara kuota pembuangan tidak ditambah sama sekali oleh provinsi. Ritasenya sangat dibatasi, apalagi sekarang sistem penimbangan. Kuota yang harusnya 14 hari, hanya cukup menjadi 10 hari," kata Chanifah.

2 hours ago
3















































