REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Perbankan menyiapkan berbagai strategi untuk mendorong transaksi nasabah seiring meningkatnya permintaan perjalanan internasional menjelang Ramadhan dan musim liburan 2026. Insentif transaksi seperti cashback dan cicilan tanpa bunga dimaksimalkan untuk menangkap momentum kenaikan mobilitas masyarakat.
PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menjadi salah satu bank yang menggenjot transaksi ritel melalui program cashback, bonus miles, serta cicilan nol persen untuk pembelian tiket penerbangan pada akhir Januari hingga awal Februari 2026. Strategi ini diarahkan untuk menjaga pertumbuhan transaksi non-tunai di tengah tren pemulihan perjalanan lintas negara.
EVP Transaction Banking Business Development BCA Norisa mengatakan, program tersebut bertujuan memperkuat aktivitas transaksi sekaligus memberi kemudahan bagi nasabah dalam merencanakan perjalanan. “Agenda ini secara konsisten mendapat respons positif dari nasabah dan menjadi bagian dari upaya kami mendorong transaksi ritel,” kata Norisa dalam keterangan tertulis, Rabu (28/1/2026).
Dorongan dari sektor perbankan ini sejalan dengan peningkatan permintaan perjalanan internasional dari sejumlah daerah. Menjelang Ramadhan, arus perjalanan dari Medan menuju kawasan Timur Tengah dilaporkan meningkat, tidak hanya untuk kepentingan ibadah umrah, tetapi juga perjalanan bisnis dan wisata.
Regional General Manager Asia and Australia Etihad Airways Charles Tan mengatakan, lonjakan permintaan tersebut mendorong penguatan konektivitas penerbangan langsung dari Bandara Kualanamu ke Abu Dhabi. Menurut dia, konektivitas yang lebih baik menjadi faktor penting untuk menjaga kelancaran mobilitas masyarakat Sumatra Utara.
Kolaborasi antara maskapai, perbankan, dan agen perjalanan dinilai berperan dalam mempermudah akses masyarakat terhadap perjalanan internasional. Charles menyebut kerja sama tersebut tidak hanya mendukung mobilitas penumpang, tetapi juga berdampak pada sektor pariwisata dan aktivitas ekonomi regional.
Di sisi lain, lonjakan permintaan perjalanan juga diiringi risiko kenaikan biaya perjalanan. Data historis menunjukkan harga tiket dan akomodasi ke destinasi populer dapat meningkat hingga 30–40 persen saat mendekati musim puncak. Kondisi ini mendorong perlunya perencanaan keuangan yang lebih disiplin.
Direktur International Wealth and Premier Banking HSBC, Indonesia Lanny Hendra menekankan pentingnya pengelolaan likuiditas agar rencana perjalanan tidak mengganggu stabilitas keuangan rumah tangga. Ia menyarankan pemisahan dana liburan dari dana darurat serta pemanfaatan fasilitas cicilan secara terukur untuk menjaga arus kas tetap sehat.
Tren tersebut menunjukkan peran perbankan tidak hanya sebagai penyedia pembiayaan, tetapi juga sebagai penopang pola konsumsi perjalanan masyarakat melalui instrumen pembayaran, cicilan, dan pengelolaan keuangan di tengah meningkatnya mobilitas global.

2 hours ago
1














































