REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Alquran menegaskan bahwa kewajiban berpuasa bukan hanya diperuntukkan bagi umat Islam, tetapi juga telah diwajibkan kepada umat-umat terdahulu. Allah SWT berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."
(QS Al-Baqarah [2]:183)
Ayat ini memunculkan pertanyaan tentang bagaimana praktik puasa dalam agama-agama sebelumnya, khususnya dalam tradisi Yahudi dan Kristen, serta apa perbedaannya dengan puasa dalam Islam.
Mantan Presiden Misi Islam Kerala, Calicut, India, Prof Shahul Hameed menjelaskan, puasa merupakan praktik spiritual yang dikenal luas dalam berbagai agama sepanjang sejarah. Secara umum, puasa dipahami sebagai sarana penyucian diri, pertobatan, dan disiplin spiritual.
Puasa dalam Tradisi Yahudi
Dalam ajaran Yahudi, puasa memiliki kedudukan penting, terutama pada hari suci Yom Kippur atau Hari Pendamaian. Dalam Kitab Imamat (16:29–31), umat diperintahkan untuk “merendahkan diri” dan tidak melakukan pekerjaan apa pun pada hari tersebut.
Yom Kippur merupakan puncak dari sepuluh hari pertobatan yang dimulai sejak Rosh Hashanah (Tahun Baru Yahudi). Pada hari itu, umat Yahudi berpuasa dari matahari terbenam hingga matahari terbenam keesokan harinya.
Menurut Shahul Hameed, puasa dalam Yudaisme bukan sekadar menahan makan dan minum. Umat juga dilarang bekerja, berhubungan suami-istri, mandi, menggunakan wewangian atau salep, bahkan mengenakan sepatu berbahan kulit. Selain Yom Kippur, terdapat empat hari puasa rutin lainnya untuk mengenang peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah Yahudi.
Puasa Yahudi umumnya dimulai sejak matahari terbit dan berakhir saat bintang pertama muncul di malam hari, kecuali Yom Kippur yang dimulai sejak matahari terbenam. Memberikan sedekah dan berbagi makanan juga sangat dianjurkan dalam momentum tersebut.
Puasa dalam Tradisi Kristen
Dalam tradisi Kristen, praktik puasa merujuk pada ajaran Jesus Christ dalam Khotbah di Bukit (Matius 6:6). Yesus menekankan agar puasa dilakukan dengan ikhlas dan tidak dipamerkan.
Secara historis, bentuk puasa yang dikenal pada masa awal Kekristenan serupa dengan praktik Yahudi, yakni menahan makan dan minum sepenuhnya. Namun dalam perkembangan selanjutnya, banyak gereja hanya mewajibkan pantang makanan tertentu, terutama daging.
Dalam Gereja Katolik Roma dan sebagian gereja lainnya, dikenal masa Lent (Prapaskah), yakni periode 40 hari puasa dan pertobatan meneladani puasa Yesus di padang gurun. Bentuknya lebih berupa pantang daging atau pembatasan jumlah makan dalam sehari, bukan menahan makan dan minum secara total sebagaimana dalam Islam.
Keunikan Puasa dalam Islam
Berbeda dengan dua tradisi tersebut, puasa dalam Islam diwajibkan selama satu bulan penuh pada bulan Ramadhan. Seorang Muslim yang baligh, berakal, sehat, dan tidak sedang dalam perjalanan diwajibkan menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami-istri sejak fajar hingga matahari terbenam.
Menurut Shahul Hameed, puasa Ramadhan memiliki dimensi unik karena terkait langsung dengan peristiwa turunnya Alquran sebagai petunjuk bagi umat manusia. Tidak ada bulan lain dalam agama lain yang disucikan secara khusus karena hubungan langsung dengan wahyu Ilahi sebagaimana Ramadhan dalam Islam.
Selain puasa wajib Ramadhan, Islam juga mengenal puasa sunnah yang dianjurkan sebagai bentuk ibadah tambahan.
Meski berbeda dalam teknis dan ketentuan, puasa dalam agam Yahudi, Kristen, dan Islam memiliki tujuan yang relatif serupa, yakni mendekatkan diri kepada Tuhan, menumbuhkan pertobatan, serta melatih pengendalian diri.
Dalam Islam, tujuan utama puasa adalah membentuk ketakwaan. Puasa menumbuhkan rasa syukur atas nikmat Allah, menguatkan disiplin diri, serta menumbuhkan empati kepada fakir miskin.
“Islam secara tegas mempertahankan kewajiban puasa sebulan penuh dari fajar hingga senja sebagai bentuk pengabdian total kepada Allah,” ujar Shahul Hameed dikutip dari Aboutislam, Jumat (20/2/2026).
Dengan demikian, meski praktik dan aturan puasa berbeda, nilai spiritualnya menunjukkan kesinambungan ajaran tauhid dalam sejarah umat manusia.

2 hours ago
6















































