REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Psikotes dalam proses pembuatan Surat Izin Mengemudi (SIM) merupakan bagian dari sistem perizinan berkendara di Indonesia. Meskipun sebagian masyarakat memandangnya sebagai prosedur administratif tambahan, secara ilmiah psikotes memiliki fungsi yang sangat penting, yaitu memastikan kesiapan mental calon pengemudi sebelum berada di jalan raya.
Psikolog Eka Indah Nurmawati menjelaskan bahwa mengemudi bukan hanya keterampilan teknis mengendalikan kendaraan.
“Berkendara adalah aktivitas yang kompleks. Seseorang harus mampu berpikir cepat, menjaga konsentrasi, mengendalikan emosi, serta berinteraksi secara sehat dengan pengguna jalan lain. Semua itu adalah aspek psikologis,” ujarnya.
Faktor Manusia Masih Dominan dalam Kecelakaan
Data Korps Lalu Lintas Polri dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa lebih dari 80 persen kecelakaan lalu lintas disebabkan oleh faktor manusia, seperti pelanggaran, pelanggaran aturan, atau perilaku tidak hati-hati.
Laporan Kementerian Perhubungan juga menunjukkan bahwa kecelakaan lalu lintas masih merenggut korban jiwa setiap tahun, dengan sebagian besar korban berada pada usia produktif. Fakta ini menegaskan bahwa persoalan keselamatan tidak hanya berkaitan dengan kendaraan atau infrastruktur, tetapi juga kualitas perilaku pengemudi.
Dalam perspektif psikologi transportasi, perilaku risiko di jalan sering kali dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti impulsivitas, agresivitas, rendahnya kontrol emosi, serta kurangnya konsentrasi.
Tiga Aspek Penting yang Diukur dalam Psikotes SIM
Secara umum, SIM psikotes dirancang untuk mengukur tiga dimensi utama yang berhubungan langsung dengan keselamatan berkendara.
Aspek Kognitif
Aspek ini berkaitan dengan kemampuan berpikir dan memproses informasi. Pengemudi perlu memiliki konsentrasi yang baik, mampu memahami situasi lalu lintas, serta mengambil keputusan secara cepat dan tepat.
Dalam kondisi jalan yang padat dan dinamis, keterlambatan berpikir beberapa detik saja dapat berakibat fatal.
Aspek Psikomotor
Aspek ini menilai koordinasi antara penglihatan dan gerakan tubuh, serta kecepatan reaksi terhadap stimulus. Respons yang cepat dan akurat sangat dibutuhkan saat menghadapi kondisi darurat, seperti pengereman mendadak atau menghindari kendaraan lain.
Aspek Kepribadian
Dimensi ini menilai stabilitas emosi, kontrol diri, kedisiplinan, serta sikap prososial.
Sikap prososial dalam berkendara berarti menghargai pengguna jalan lain, tidak egois, mampu menahan emosi, serta bersedia berbagi ruang di jalan raya.
“Jalan raya adalah ruang sosial. Jika seseorang mudah marah, impulsif, atau tidak peduli pada orang lain, risiko kecelakaan akan meningkat,” jelas Eka.
Penelitian dalam psikologi sosial menunjukkan bahwa individu dengan sikap prososial yang baik cenderung lebih patuh terhadap aturan dan lebih jarang melakukan pelanggaran lalu lintas.
Pendekatan Preventif untuk Mengurangi Risiko
Psikotes SIM pada dasarnya merupakan bentuk skrining preventif. Tujuannya untuk memastikan setiap pemegang SIM memiliki standar kesiapan mental minimal.
Pendekatan preventif ini penting karena keselamatan tidak bisa hanya bergantung pada penindakan setelah kecelakaan terjadi. Upaya pencegahan sejak awal jauh lebih efektif dan berdampak jangka panjang.
Dengan jumlah kendaraan bermotor yang terus meningkat setiap tahun di Indonesia, serta populasi pengemudi yang sangat besar, peningkatan aspek kesiapan mental menjadi semakin relevan.
Peran Profesional dan Standar Keilmuan
Pelaksanaan psikotes melibatkan tenaga profesional di bidang psikologi karena asesmen ini memerlukan instrumen yang terstandar, sistem penilaian tujuan, serta kompetensi khusus.
Standarisasi dan profesionalitas penting untuk menjaga kualitas hasil tes serta memastikan proses berjalan secara akuntabel.
Dalam tata kelola layanan publik, kolaborasi dengan tenaga profesional merupakan praktik yang umum dilakukan, selama tetap berada dalam koridor regulasi dan pengawasan yang jelas.
Membangun Budaya Berkendara yang Lebih Dewasa
Keselamatan lalu lintas tidak hanya bergantung pada aturan dan infrastruktur, tetapi juga pada kualitas individu di balik kemudi.
Jika setiap pengemudi memiliki konsentrasi yang baik, respon yang cepat, serta emosi yang stabil dan empatik, maka risiko kecelakaan dapat ditekan secara signifikan.
“Kalau kita ingin angka kecelakaan menurun, faktor manusia harus menjadi perhatian utama. Psikotes adalah salah satu langkah untuk memastikan kesiapan itu,” tegas Eka.
Pada akhirnya, keselamatan di jalan raya adalah tanggung jawab bersama. Psikotes SIM dapat dipandang sebagai bagian dari edukasi dan komitmen kolektif untuk membangun budaya berkendara yang lebih tertib, saling menghargai, dan peduli pada keselamatan. "Karena yang kita jaga di jalan bukan hanya kendaraan, tapi juga nyawa," katanya.

3 hours ago
7















































