Makan Nasi Padang Terus, tapi Udah Kenal Gastronomi Belum?

2 hours ago 6

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Jujur deh, siapa di sini yang sering makan nasi Padang? Lauknya banyak, rasanya nendang, dan tinggal tunjuk. Tapi pernah nggak kepikiran, kalau sepiring nasi Padang yang sering kita makan itu sebenarnya pintu masuk buat kenalan sama sesuatu yang lebih luas bernama gastronomi?

Yup, di balik rendang, gulai, dan sambal hijau itu, ada cerita panjang soal budaya, sejarah, identitas, bahkan peluang masa depan. Banyak orang masih mikir gastronomi itu cuma soal makan enak atau gaya hidup ala konten kuliner.

Padahal, gastronomi adalah ilmu dan seni makan minum yang berkaitan erat dengan tradisi, budaya, dan peradaban.

Lewat makanan, kita bisa belajar cara hidup suatu masyarakat, bagaimana mereka memanfaatkan alam, sampai nilai-nilai yang mereka pegang. Jadi, saat kamu makan nasi Padang, sebenarnya kamu lagi “membaca” cerita orang Minangkabau lewat rasa.

Contohnya sederhana. Rendang bukan cuma lauk favorit sejuta umat, tapi simbol kesabaran dan kebersamaan karena proses masaknya panjang dan melibatkan banyak orang.

Cara penyajian nasi Padang yang lauknya berjejer juga mencerminkan nilai kolektivitas dan keterbukaan. Inilah yang bikin gastronomi beda dari sekadar urusan perut. Makanan jadi identitas, kebiasaan, dan bagian dari cara manusia memaknai hidup.

Kabar baiknya, gastronomi Indonesia sekarang lagi naik level di mata dunia. Beberapa kota di Indonesia masuk daftar kota dengan kuliner terbaik dunia, rawon dinobatkan sebagai salah satu makanan terenak versi TasteAtlas, dan sektor makanan-minuman jadi penggerak utama ekonomi kreatif nasional.

Artinya, kuliner Indonesia bukan cuma bikin bangga, tapi juga punya nilai ekonomi dan daya saing global. Nasi Padang dan teman-temannya bukan sekadar menu harian, tapi aset bangsa.

Tapi di tengah sorotan global ini, ada tantangan besar yang nggak boleh diabaikan, yaitu bagaimana menjaga keaslian rasa dan nilai lokal agar nggak hilang ditelan tren dan globalisasi. Di sinilah konsep etnogastronomi jadi penting.

Etnogastronomi mengajak kita nggak cuma fokus ke “apa yang dimakan” dan “gimana cara masaknya”, tapi juga “kenapa makanan itu ada” dan “maknanya buat siapa”. Di Indonesia, makanan sering punya fungsi sosial dan simbolik, seperti nasi tumpeng, ketupat, atau hidangan adat lainnya. Nilai-nilai inilah yang bikin gastronomi Indonesia unik dan kuat.

Dalam dunia pariwisata, gastronomi juga punya peran besar. Sebagian besar pengeluaran wisatawan dihabiskan untuk makan dan minum. Artinya, wisata kuliner bisa langsung menggerakkan ekonomi lokal, dari petani, nelayan, UMKM, sampai industri kreatif.

Sekarang pun tren wisata kuliner bergeser. Orang nggak cuma pengin makan enak, juga tahu cerita di balik makanan, proses pembuatannya, dan nilai yang dikandungnya. Makan jadi pengalaman, bukan sekadar aktivitas. Karena kompleks dan kaya makna, gastronomi juga jadi lahan subur buat riset dan inovasi.

Topiknya luas banget, mulai dari gastronomi dan identitas budaya, kearifan lokal, perilaku wisatawan, diplomasi kuliner, digitalisasi resep tradisional, sampai hubungan makanan dengan lingkungan dan perubahan iklim.

Semua ini bisa dikaji secara ilmiah dan dikembangkan jadi solusi nyata. Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) sebagai Kampus Digital Kreatif mendorong lahirnya kajian-kajian seperti ini agar mahasiswa dan akademisi bisa terlibat langsung dalam isu yang relevan dengan zaman.

Buat kamu yang punya gagasan, riset, atau ketertarikan di bidang gastronomi dan pariwisata, hasil pemikiranmu bisa dipublikasikan di Jurnal Pariwisata Universitas BSI.

Publikasi ilmiah bukan cuma soal akademik, tapi juga kontribusi nyata dalam membangun pariwisata Indonesia yang berkelanjutan dan berkarakter. Informasi lengkap jurnal bisa diakses di https://jurnal.bsi.ac.id/index.php/jp/about.

Jadi, mulai sekarang, jangan anggap enteng sepiring nasi Padang yang kamu makan. Di balik lauk-lauk itu, ada cerita tentang budaya, ilmu pengetahuan, ekonomi, dan masa depan. Gastronomi itu dekat, relevan, dan penuh peluang.

Tinggal mau dilihat dari sudut pandang biasa, atau dikulik lebih dalam dan dijadikan sesuatu yang berdampak. Siapa tahu, dari nasi Padang, kamu nemuin topik riset atau ide besar berikutnya.

Read Entire Article
Politics | | | |