REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Christian Sidarta, Country Sales Leader for Indonesia dan Director of Black & Veatch Indonesia
Dinamika geopolitik sepanjang tahun ini telah mendorong banyak negara di Asia untuk meninjau kembali strategi mereka dalam memperkuat ketahanan energi, termasuk Indonesia. Sebagai salah satu kekuatan ekonomi yang semakin diperhitungkan di kawasan, serta pemasok mineral kritis yang berperan penting dalam rantai pasok global, Indonesia kini menempati posisi yang semakin strategis dalam lanskap energi dunia. Di saat yang sama, Indonesia juga terus menunjukkan komitmennya terhadap agenda dekarbonisasi.
Berbagai upaya dilakukan untuk meningkatkan kapasitas pasokan energi agar mampu mengimbangi pertumbuhan kebutuhan, terutama dari sektor industri dan pusat data yang berkembang pesat. Jika dijalankan secara konsisten, langkah-langkah ini tidak hanya akan memperkuat daya saing ekonomi nasional, tetapi juga menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat melalui peningkatan kesejahteraan dan kualitas hidup di seluruh penjuru Nusantara. Namun, gangguan terhadap rantai pasok energi global yang terjadi pada paruh pertama tahun ini menunjukkan upaya mencapai dekarbonisasi, ketahanan energi, dan pertumbuhan ekonomi perlu direncanakan melalui dua tahapan.
Pertama, Indonesia perlu segera memperkuat ketahanan pasokan energi dan infrastruktur energi dalam jangka pendek agar mampu menghadapi berbagai ketidakpastian. Kedua, setelah fondasi tersebut semakin kokoh, langkah-langkah untuk mempercepat penurunan emisi karbon dalam jangka panjang dapat dijalankan secara lebih optimal. Pandangan inilah yang saya sampaikan dalam Global Sustainable Development Congress pekan lalu, saat menjadi pembicara pada sesi panel bertajuk "Scaling Energy Infrastructure for Decarbonised Growth."
Membangun Ketahanan Jangka Pendek melalui Perencanaan Sistem Energi yang Terpadu
Salah satu pembahasan utama dalam sesi panel tersebut adalah bagaimana mempercepat pengembangan sistem energi berkelanjutan. Kami sepakat bahwa upaya tersebut memerlukan perubahan cara pandang dalam merancang sistem energi.
Selama ini, berbagai teknologi energi kerap diperlakukan sebagai solusi yang berdiri sendiri—mulai dari energi surya dan energi angin, hingga sistem penyimpanan baterai dan hidrogen yang dipandang sebagai solusi masa depan. Padahal, teknologi-teknologi tersebut saling melengkapi dan perlu dirancang sebagai satu kesatuan sistem. Pendekatan ini menjadi semakin penting bagi kawasan ekonomi yang tengah berkembang, seperti koridor lintas negara SIJORI (Singapura–Johor–Riau).
Pertumbuhan pesat pusat data dan industri manufaktur berteknologi tinggi di kawasan ini membutuhkan pasokan listrik yang andal dan stabil. Kebutuhan tersebut hanya dapat dipenuhi melalui sistem energi yang dirancang secara terpadu, bukan melalui pengembangan setiap teknologi secara terpisah.
Tanpa perencanaan yang terpadu, Indonesia berisiko memiliki aset energi berkelas dunia yang belum mampu sepenuhnya menjawab kebutuhan industri dan ekonomi digital yang berkembang sangat pesat. Listrik dari sumber energi terbarukan seperti tenaga surya, panas bumi, air, dan angin akan menjadi tulang punggung sistem energi masa depan Indonesia. Selain mendukung pertumbuhan ekonomi, sumber energi ini juga berperan penting dalam mencapai target dekarbonisasi nasional.
Di sisi lain, molekul rendah karbon (low-carbon molecules), seperti biogas, biometana, dan hidrogen, akan memegang peranan penting bagi sektor industri berat dan industri padat energi yang sulit dialiri listrik secara langsung. Indonesia memiliki peluang besar untuk memanfaatkan limbah organik yang melimpah sebagai bahan baku dalam menghasilkan bahan bakar rendah karbon yang dapat dikembangkan dalam skala besar, sehingga memperkuat ketahanan energi sekaligus mempercepat transisi menuju ekonomi rendah karbon.
Pada kongres, saya juga menekankan Indonesia memiliki posisi yang sangat strategis berkat cadangan nikel terbesar di dunia. Keunggulan ini memberikan peluang besar bagi Indonesia untuk mendukung pengembangan teknologi baterai dan sistem penyimpanan energi yang dibutuhkan guna menjaga keandalan sistem kelistrikan modern, terutama dalam mengatasi sifat intermiten energi terbarukan.
Masing-masing keunggulan tersebut memiliki nilai strategis. Namun, ketika dirancang dan dikembangkan melalui perencanaan yang terpadu, seluruh potensi tersebut dapat menjadi keunggulan kompetitif yang mampu memperkuat posisi Indonesia dalam transisi energi regional.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

6 hours ago
15













































