Rupiah Lanjutkan Pelemahan Menuju Level Rp 18.109, Kasus Ini Diduga Jadi Sentimen Negatif

3 hours ago 6

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melanjutkan pelemahan di atas level Rp 18.000-an per dolar AS. Pengamat menilai, salah satu sentimen negatif yang memengaruhi terkoreksinya Mata Uang Garuda adalah kasus dugaan korupsi yang menyeret eks Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung RI. 

Mengutip Bloomberg, rupiah melemah 44 poin atau 0,24 persen menuju level Rp 18.109 per dolar AS pada penutupan perdagangan Senin (13/7/2026). Pada perdagangan sebelumnya, rupiah berada di posisi Rp 18.065 per dolar AS.

“Pasar merespon negatif terhadap dugaan mega korupsi yang menyeret mantan Jampidsus Kejaksaan Agung Febrie Adriansyah, serta konflik antara aparat penegak hukum berpotensi menimbulkan dampak serius terhadap perekonomian nasional,” kata Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi dalam keterangannya kepada wartawan, Senin (13/7/2026). 

Ibrahim menuturkan, kasus hukum yang terjadi saat ini bisa berdampak terhadap ekonomi. Pasalnya, hukum sebagai faktor lingkungan bisnis jelas sangat mempengaruhi kinerja ekonomi melalui perilaku ekonomi, efisiensi ekonomi, investasi maupun inovasi.

Menurutnya, negara yang memiliki sistem hukum buruk seperti Indonesia cenderung terhambat kinerja dan pertumbuhan ekonominya. “Ini bukan hanya teoritis, tetapi faktual terjadi di berbagai negara dengan sistem hukum yang lemah. Oleh karena itu, sasaran pertumbuhan menuju 8 persen sangat sulit dicapai jika lingkungan bisnisnya rusak seperti kasus hukum yang terjadi sekarang ini,” tuturnya. 

Ia menyebut, dengan hukum yang hancur seperti itu, tidak ada lagi kepastian hukum dan secara otomatis kepercayaan investor jatuh. Ditambah kebijakan tidak pro pasar, yang menyebabkan terjadinya “vote of no confidence”, yang akan menghambat perekonomian. Keadaan tersebut pada gilirannya akan menghambat pemerintah untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat meningkat. 

“Sementara itu, kasus Febrie adalah puncak kerusakan hukum. Seharusnya aparat penegak hukum di negara demokrasi modern menjadi pilar kepastian hukum dan berdiri di depan sebagai pemberantas korupsi. Tetapi drama yang kita lihat mereka menjadi aktor utamanya, korup sekorup-korupnya. Presiden Prabowo Subianto mendapat ujian yang berat dalam masalah hukum dan dampaknya terhadap ekonomi,” terangnya. 

Sentimen Eksternal 

Sementara itu, dari luar negeri, Ibrahim menyampaikan ada beberapa sentimen eksternal yang memengaruhi fluktuasi rupiah pada hari ini. Terutama dampak dari ditutupnya kembali Selat Hormuz, sebagai respons atas serangan yang dilakukan AS terhadap Iran.

“Pasukan AS dan Iran telah saling melancarkan serangan rudal dan drone berat, dengan Teheran menargetkan fasilitas AS di negara-negara di seluruh Teluk pada hari Minggu dan mengatakan bahwa mereka telah kembali menutup Selat Hormuz yang vital. Kekerasan yang kembali terjadi ini menimbulkan keraguan lebih lanjut tentang masa depan perjanjian sementara AS-Iran yang ditandatangani bulan lalu yang bertujuan untuk membuka kembali selat tersebut dan mengakhiri perang setelah 60 hari negosiasi lebih lanjut,” kata Ibrahim. 

Read Entire Article
Politics | | | |