REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kesepakatan Perjanjian antara Amerika dan Indonesia menempatkan sektor mineral kritis sebagai salah satu pilar strategis hubungan bilateral kedua negara. Dalam dokumen Agreement between the United States of America and the Republic of Indonesia on Reciprocal Trade, Indonesia menyatakan akan mengizinkan dan memfasilitasi investasi AS untuk eksplorasi, penambangan, pemurnian, pengolahan, hingga ekspor mineral kritis dan sumber daya energi.
Komitmen ini bukan sekadar klausul investasi biasa. Dalam konteks global, mineral kritis kini dipandang sebagai komoditas strategis yang menentukan keamanan energi, daya saing industri, hingga kepentingan pertahanan.
Dalam sambutannya di U.S. Chamber of Commerce Business Summit di Washington DC, Presiden Prabowo Subianto secara tegas mengajak investor AS melihat potensi strategis Indonesia di sektor mineral kritis.
“Saya kira kami memiliki kekuatan di mineral kritis. Saya juga mendapat laporan bahwa Indonesia adalah salah satu negara dengan cadangan tanah jarang terbesar di dunia,” kata Prabowo.
Bagi Amerika Serikat, pengamanan rantai pasok mineral kritis menjadi bagian dari agenda keamanan nasional. Dokumen perjanjian tersebut juga menegaskan adanya penyelarasan langkah ekonomi dan keamanan antara kedua negara, termasuk potensi adopsi kebijakan yang selaras untuk mengatasi praktik perdagangan tidak adil dari negara ketiga.
Merujuk data International Energy Agency (IEA), IEA mencatat permintaan mineral seperti tembaga, nikel, lithium, kobalt, dan rare earth elements (REEs) meningkat tajam seiring percepatan transisi energi. Data Global Critical Minerals Outlook IEA memperkirakan potensi defisit pasokan tembaga pada dekade mendatang jika investasi baru tidak segera direalisasikan.
IEA juga menyoroti tingginya konsentrasi pengolahan mineral pada segelintir negara. Untuk beberapa mineral strategis, tiga negara teratas menguasai lebih dari 80% kapasitas pemurnian global. Situasi ini menciptakan risiko rantai pasok yang rentan terhadap gangguan geopolitik maupun kebijakan proteksionis.
Kementerian ESDM menyebut pemerintah Indonesia telah mengidentifikasi delapan blok dengan potensi cadangan rare earth elements (REEs) di Kalimantan, Sulawesi dan Bangka Belitung. Mineral ini sangat penting untuk magnet permanen kendaraan listrik, turbin angin, hingga sistem pertahanan.
Selain REE, blok-blok tersebut juga disebut mengandung tungsten, tantalum, dan mineral strategis lain yang memiliki nilai penting dalam industri teknologi tinggi dan militer.
Temuan ini memperkuat posisi Indonesia sebagai negara dengan potensi sumber daya mineral kritis yang signifikan, melengkapi cadangan nikel dan tembaga yang selama ini telah lebih dahulu dikembangkan.
Bagi AS, kerja sama ini membuka jalur diversifikasi sumber pasokan mineral penting, mengurangi ketergantungan pada negara tertentu, serta memperkuat keamanan industri domestik berbasis teknologi tinggi.
Bagi Indonesia, perjanjian ini membuka peluang masuknya investasi dan teknologi pemurnian, mempercepat pengembangan hilirisasi, serta memperluas akses pasar. Dengan adanya komitmen perlakuan setara dan kemudahan investasi di sektor mineral, kepastian hukum bagi investor strategis seperti perusahaan tambang asal AS menjadi lebih kuat.
Kerjasama pengembangan mineral kritis ini akan dimotori oleh PT Freeport Indonesia. Pada lawatan Prabowo ke Amerika tersebut, Presiden menyaksikan langsung penandatanganan perjanjian antara Freeport-McMoRan dan Kementerian Investasi Indonesia terkait mineral kritis.
Untuk proyek ini, Freeport akan meningkatkan investasi hingga 20 miliar dolar AS. Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Roeslani menjelaskan Pemerintah akan menindaklanjuti persetujuan ini agar menjadi perjanjian definitif sesegera mungkin.
“Kurang lebih dalam 20 tahun ke depan nilainya 20 miliar dolar AS. Ini juga akan memberikan dampak yang positif bagi penerimaan pajak dan yang lain-lain,” kata Rosan dalam konferensi pers.

2 hours ago
4















































