Pesan buat Pandji: Bagaimana Islam Mengatur Kritik Sosial Lewat Komedi?

10 hours ago 7

Oleh : Fahmi Salim, Direktur Al-Fahmu Institute, Ketum Forum Dai dan Muballigh Azhari Indonesia, dan Dewan Syariah Syarikat Kebangkitan Pemuda Islam

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Fenomena kritik sosial yang diungkapkan melalui komedi, baik lewat film, musik, satire, maupun stand up comedy, bukanlah hal baru dalam dinamika bangsa.

Secara sosiologis, humor telah lama menjadi bahasa yang aman untuk menyuarakan keresahan, menyindir kekuasaan, dan membuka ruang dialog kritis tanpa harus berkonfrontasi langsung. Pertanyaan mendasarnya adalah, bagaimana Islam, para ulama, dan tokoh umat memandang praktik budaya ini?

Dalam khazanah pemikiran Islam, pandangan terhadap hal ini sejatinya cukup seimbang dan bernuansa. Islam secara prinsip mengakui keberadaan humor. Rasulullah ﷺ sendiri dalam riwayat-riwayat yang sahih pernah bercanda, tersenyum, dan menggunakan kalimat jenaka.

Namun, beliau selalu menjaga batasan yang jelas: kejujuran (tidak berdusta), kehormatan orang lain, serta menghindari penghinaan dan pelecehan terhadap kelompok tertentu. Prinsip syariat yang relevan, seperti dalam QS. Al-Hujurat: 11 yang melarang saling mencela, menjadi penanda bahwa humor diperbolehkan selama tidak berubah menjadi alat penghinaan, pelecehan agama, fitnah, atau penodaan terhadap hal-hal yang sakral.

Lebih jauh, kritik sosial dalam Islam sesungguhnya merupakan bagian integral dari amar ma'ruf nahi munkar, yaitu menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Sabda Nabi ﷺ tentang "sebaik-baik jihad adalah perkataan yang benar di hadapan penguasa yang zalim" memberikan legitimasi bahwa menyuarakan kebenaran dan kritik yang membangun adalah sebuah bentuk ibadah sosial.

Dalam konteks ini, komedi dapat bertransformasi menjadi "bahasa dakwah kultural", selama nafas dan tujuannya adalah koreksi sosial untuk perbaikan, bukan sekadar ejekan atau destruksi moral yang tidak bertanggung jawab.

Sejarah peradaban Islam juga mencatat bahwa tradisi humor dan satire bukanlah hal yang asing. Kita mengenal syair-syair satir (hijā’) yang mengkritik kezaliman, humor sufistik yang penuh dengan tamparan kesadaran moral, serta kisah-kisah jenaka Nashruddin Hoja yang menyindir kebodohan dan kecongkakan sosial. Hal ini menunjukkan bahwa Islam tidak alergi terhadap satire sebagai medium. Persoalan utamanya bukan terletak pada medianya, melainkan pada nilai, niat, dan dampak yang dikandungnya.

Secara umum, respons para ulama dan tokoh umat terhadap fenomena komedi kritik sosial dapat dikategorikan dalam tiga kecenderungan utama. Pertama, arus yang mendukung, dengan syarat komedi berfungsi membuka kesadaran publik, mengkritik ketidakadilan, menjaga demokrasi moral, dan sama sekali tidak melecehkan agama serta kehormatan manusia. Kelompok ini memandang humor sebagai ventilasi sosial yang sehat.

Kedua, arus yang mengingatkan dan menginginkan kehati-hatian, terutama ketika komedi mulai bergeser menjadi body shaming, bullying sosial, pornografi verbal, atau canda yang menjatuhkan martabat. Mereka menekankan pentingnya adab berbicara dan tanggung jawab moral seorang komika. Ketiga, arus yang menolak keras, khususnya apabila konten komedi dinilai telah menormalisasi kemaksiatan, melecehkan simbol agama, menghina ulama, atau merusak akhlak generasi.

Read Entire Article
Politics | | | |