Proyeksi Harga Emas 2026 Bisa Capai 6.000 Dolar AS per Troy

3 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) memproyeksikan harga emas berkisar 5.500–6.000 dolar AS per troy ounce hingga akhir tahun 2026 dengan volatilitas tetap tinggi di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global.

Jika dikonversikan secara kasar ke harga emas di dalam negeri, kisaran tersebut setara Rp 2,9 juta hingga Rp 3,2 juta per gram, tergantung kurs rupiah dan harga pasar domestik.

"Beberapa lembaga keuangan global telah menaikkan proyeksi harga emas untuk tahun 2026 yang didorong oleh risiko geopolitik global yang persisten serta permintaan struktural dari bank sentral. Hal ini mencerminkan ekspektasi reli yang semakin menguat di tengah ketidakpastian geopolitik dan pembelian agresif oleh bank sentral," kata Analis Research and Development ICDX Tiffani Safinia dalam keterangan resminya di Jakarta, Jumat (13/3/2026) lalu.

Berdasarkan jajak pendapat Reuters terhadap 30 analis dan trader internasional, median proyeksi harga emas untuk 2026 berada di 4.746,50 dolar AS per troy ounce, melonjak signifikan dibanding estimasi 4.275 dolar AS yang dirilis pada Oktober 2025.

Di tingkat institusional, Goldman Sachs Group Inc merevisi naik target harga emas akhir 2026 menjadi 5.400 dolar AS per troy ounce dari sebelumnya 4.900 dolar AS. JP Morgan juga memproyeksikan harga emas mencapai 6.300 dolar AS per troy ounce. Morgan Stanley mematok proyeksi rata-rata 4.600 dolar AS dengan skenario bullish mencapai 5.700 dolar AS pada paruh kedua 2026.

Sementara itu Deutsche Bank memproyeksikan harga emas mencapai 6.000 dolar AS per troy ounce pada tahun ini, CITI Research sebesar 5.000 dolar AS per troy ounce, dan UBS sebesar 6.200 dolar AS per troy ounce.

Menurut ICDX, pergerakan emas dipengaruhi lonjakan harga energi yang sempat memicu kekhawatiran inflasi. Dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) tenor 10 tahun juga berfluktuasi karena pasar memperkirakan arah kebijakan suku bunga bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed).

Dalam kondisi saat ini, dolar AS dan imbal hasil obligasi AS dinilai dapat menjadi faktor yang lebih dominan dibandingkan sentimen safe haven dari konflik geopolitik.

Jika berkaca pada tahun sebelumnya, Tiffani menyatakan 2025 menjadi salah satu tahun terbaik bagi emas dalam beberapa dekade, sekaligus memperkuat peran komoditas tersebut sebagai aset safe haven dan instrumen diversifikasi di tengah ketidakpastian global.

Sepanjang 2025, harga emas naik signifikan sebesar 64 persen dengan 53 kali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all time high). Rekor tertinggi tersebut tercatat sebesar 4.550 dolar AS per troy ounce pada 26 Desember 2025. Selain itu, rata-rata harga emas berada di sekitar 3.431 dolar AS per troy ounce, sementara pembelian emas oleh bank sentral mencapai sekitar 863 ton.

"Beberapa sentimen yang menjadi pendorong kenaikan emas pada 2025 yaitu tiga kali pemangkasan suku bunga dengan total 75 basis points melalui keputusan Federal Open Market Committee (FOMC), konflik Timur Tengah (Israel–Iran), perang Rusia–Ukraina, serta ketegangan AS–China," ungkapnya.

Selain itu, total pembelian emas oleh bank sentral mencapai sekitar 863 ton, sementara pergerakan dolar AS cenderung berfluktuasi akibat ketidakpastian arah kebijakan moneter dan ekspektasi suku bunga yang turut meningkatkan alokasi investasi ke emas.

"Hal ini memberikan gambaran bahwa kombinasi faktor makro dan geopolitik mendorong reli emas sepanjang 2025," ujar Tiffani Safinia.

sumber : Antara

Read Entire Article
Politics | | | |