
Oleh : Nur Hadi Ihsan, Guru Besar Universitas Darussalam Gontor
REPUBLIKA.CO.ID, PONOROGO -- Ramadan selalu datang dengan satu kalimat kunci: la‘allakum tattaqūn—“agar kamu bertakwa” (QS. al-Baqarah: 183). Ayat ini bukan sekadar penjelasan hukum, melainkan penyingkapan tujuan. Puasa bukan hanya kewajiban ritual, melainkan jalan pendidikan ruhani. Ia bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi menumbuhkan kesadaran terdalam bahwa manusia hidup dalam pengawasan Allah.
Di sinilah letak perbedaan antara sekadar berpuasa dan sungguh-sungguh memasuki madrasah takwa.
Takwa Sebagai Kesadaran Ilahi
Secara bahasa, takwa berarti menjaga diri. Dalam makna spiritual, ia adalah kesadaran konstan akan kehadiran Allah dalam setiap ruang dan waktu.
وهو معكم أين ما كنتم (الحديد: ٤)
Takwa bukan ketakutan yang membuat manusia lari, tetapi kewaspadaan yang membuat manusia berhati-hati. Ia adalah cahaya batin yang membimbing langkah.
Puasa melatih kesadaran ini dengan cara yang unik. Tidak ada polisi yang mengawasi seseorang ketika ia sendirian di kamar. Tidak ada kamera yang merekam apakah ia diam-diam minum atau tidak. Namun ia tetap menahan diri. Mengapa? Karena ia sadar: Allah melihat.
Rasulullah SAW meriwayatkan firman Allah dalam Hadis Qudsi:
“Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Para ulama menjelaskan bahwa puasa memiliki dimensi keikhlasan paling murni, karena ia tersembunyi. Orang bisa saja menampakkan salat atau sedekah, tetapi puasa adalah rahasia antara hamba dan Tuhannya. Di sini takwa tumbuh dalam sunyi.
Dari Lapar Menuju Cahaya
Lapar dalam puasa bukan sekadar kondisi biologis. Ia adalah metode pendidikan jiwa. Ketika perut kosong, ego melemah. Ketika dahaga terasa, kesombongan runtuh. Manusia diingatkan bahwa dirinya lemah dan bergantung.
Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa lapar melembutkan hati dan menajamkan ruh. Dalam tradisi tasawuf, pengurangan makan adalah bagian dari riyāḍat al-nafs—latihan jiwa. Puasa Ramadan menghadirkan latihan itu dalam skala kolektif: seluruh umat menjalani proses tazkiyah bersama.
Di sinilah puasa menjadi jalan menuju takwa. Sebab takwa tidak lahir dari kenyamanan berlebihan, tetapi dari kesadaran akan keterbatasan diri. Lapar menjadi cermin eksistensial: manusia bukan pusat semesta; ia hamba.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

3 hours ago
6















































