RI Butuh 5,3 Juta Pekerja Hijau Hingga 2029, Ini Keterampilan yang Dibutuhkan

4 hours ago 18

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Indonesia diproyeksikan membutuhkan lebih dari 5,3 juta tenaga kerja hijau hingga 2029. Wakil Kepala Misi/Wakil Duta Besar (Designated Deputy Head of Mission) Kedutaan Besar Republik Federal Jerman Oliver Sperling menilai kebutuhan tersebut harus diimbangi investasi pada keterampilan, pendidikan vokasi, dan keterlibatan industri.

Sperling mengatakan, pekerjaan hijau tidak hanya bergantung pada kebijakan dan perkembangan teknologi. Keberhasilan transisi menuju ekonomi hijau sangat ditentukan oleh kemampuan tenaga kerja dalam mengoperasikan dan mengembangkan teknologi tersebut.

“Kebijakan dapat menentukan arah dan teknologi dapat memberi kita alat. Namun, bahan paling penting untuk keberhasilan adalah talenta. Komitmen hanya menghasilkan sesuatu ketika kita berinvestasi pada manusia,” kata Sperling dalam Indonesia Green Jobs Conference (IGJC) 2026 di Jakarta.

Menurut Sperling, kebutuhan tenaga kerja dengan keterampilan hijau akan meningkat seiring investasi Indonesia pada energi terbarukan, produksi sirkular, efisiensi energi, dan teknologi rendah karbon. Pengembangan green skills, kata dia, perlu ditempatkan sebagai investasi untuk memenuhi kebutuhan pekerjaan hijau sekaligus mendukung transformasi ekonomi.

Jerman telah bekerja sama dengan Indonesia dalam pengembangan pendidikan dan pelatihan vokasi selama lebih dari dua dekade. Menurut Sperling, kerja sama tersebut perlu mengikuti perubahan kebutuhan pasar kerja akibat transisi hijau. “Investasi pada keterampilan hijau merupakan investasi langsung pada masa depan,” ujarnya.

Sperling mengatakan, penciptaan pekerjaan hijau tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Dunia usaha, industri, lembaga pendidikan, masyarakat sipil, anak muda, dan sektor inovasi memiliki peran dalam menyiapkan tenaga kerja untuk sektor tersebut.

Ia mencontohkan sejumlah kerja sama Jerman dan Indonesia yang menggabungkan pengembangan teknologi dengan peningkatan keterampilan tenaga kerja. Salah satunya adalah kemitraan perusahaan Jerman dengan lembaga pembiayaan pembangunan untuk meluncurkan pelatihan hidrogen bergerak pertama di Indonesia.

Program tersebut membekali teknisi dan insinyur Indonesia dengan keterampilan yang dibutuhkan untuk bekerja di sektor hidrogen. Menurut Sperling, perkembangan teknologi energi bersih perlu berjalan beriringan dengan kesiapan tenaga kerja.

Contoh lainnya adalah fasilitas penyimpanan dingin bertenaga surya di Institut Pertanian Bogor (IPB), Bogor. Teknologi fasilitas tersebut disediakan perusahaan Jerman, tetapi pengoperasiannya tetap membutuhkan tenaga teknis yang memiliki kemampuan menjalankan sistem pendingin secara efisien. “Teknologi hanya bekerja jika tersedia teknisi terampil,” katanya.

Sperling juga menyoroti program Siemens yang memberikan kesempatan kepada siswa sekolah menengah kejuruan (SMK) memperoleh pengalaman praktik di pusat layanan perusahaan tersebut di Cilegon. Melalui kerja sama dengan Kamar Dagang dan Industri Jerman-Indonesia (EKONID), siswa mendapatkan pengalaman di lingkungan kerja profesional sebelum lulus.

Ia mengatakan, Siemens, Bayer, Astra Group, dan Daimler Commercial Vehicles telah menciptakan lebih dari 400 kesempatan pemagangan.

Skema tersebut menunjukkan hubungan antara pendidikan vokasi dan kebutuhan industri dalam menyiapkan tenaga kerja untuk pekerjaan hijau. “Sekolah membangun kerangka teoritis dan kaum muda menguasai keahlian melalui praktik,” ujarnya.

Sperling menilai pengembangan pekerjaan hijau juga perlu mencakup kelompok yang lebih luas. Kesempatan memperoleh keterampilan dan memasuki pasar kerja hijau, kata dia, perlu tersedia bagi perempuan, kaum muda, serta pekerja di sektor informal.

Sperling mengatakan, generasi muda yang hadir dalam konferensi tersebut akan menjadi bagian penting dari perkembangan pasar kerja hijau Indonesia. Mahasiswa, peneliti, dan inovator tidak hanya menjadi penerima manfaat transformasi tersebut, tetapi juga akan menentukan jenis pekerjaan dan keterampilan yang dibutuhkan pada masa depan.

“Kami ingin mendengar perspektif Anda ketika kita mencari cara membangun masa depan yang benar-benar menginspirasi dan menarik bagi generasi berikutnya,” katanya.

Selain menciptakan lapangan kerja di Indonesia, transisi hijau juga membuka peluang mobilitas tenaga kerja. Sperling mengatakan, Jerman memiliki pengalaman dalam efisiensi energi dan hidrogen yang dapat dibagikan kepada Indonesia.

Kerja sama tersebut berpotensi membuka kesempatan bagi tenaga kerja Indonesia untuk mengembangkan karier di Jerman. Namun, menurut dia, mobilitas tenaga kerja tidak boleh hanya dilihat sebagai perpindahan pekerja ke perusahaan atau proyek Jerman.

Pengalaman yang diperoleh tenaga kerja melalui perusahaan, bengkel, maupun proyek energi Jerman juga dapat digunakan untuk meningkatkan kapasitas industri dan ekonomi Indonesia.

Untuk mendukung hal tersebut, Jerman dan Indonesia bekerja untuk memastikan kualifikasi dan sertifikasi tenaga kerja dapat diakui dan dibandingkan di kedua negara.

Sperling menilai Indonesia memiliki fondasi untuk mengembangkan pekerjaan hijau. Bappenas bersama kementerian terkait telah memetakan keterampilan utama yang dibutuhkan serta menyesuaikan pendidikan vokasi dengan tuntutan ekonomi yang semakin hijau.

Ia menyebut peta jalan pengembangan tenaga kerja hijau Indonesia memproyeksikan kebutuhan lebih dari 5,3 juta tenaga kerja hijau pada 2029. “Sekarang saatnya bergerak menuju aksi,” katanya.

Menurut Sperling, tantangan Indonesia berikutnya bukan sekadar menetapkan target pekerjaan hijau, tetapi memastikan masyarakat memiliki akses terhadap pelatihan yang relevan, memperoleh sertifikasi yang sesuai dengan kebutuhan industri, dan melihat pekerjaan hijau sebagai pilihan karier yang menjanjikan.

“Ketika kaum profesional muda merasa bahwa mereka memiliki masa depan, saat itulah komitmen menghasilkan dampak,” ujarnya.

Read Entire Article
Politics | | | |