Rilis Pertumbuhan Ekonomi 2025 Capai 5,11 Persen tak Mampu Bikin Rupiah Menguat

2 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Pusat Statistik (BPS) merilis angka pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 mencapai 5,11 persen, lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat 5,03 persen. Kendati demikian, rilis pertumbuhan ekonomi tersebut tidak mampu mengangkat nilai tukar rupiah.

Mengutip Bloomberg, rupiah melemah 65 poin atau 0,39 persen menuju level Rp 16.842 per dolar AS pada penutupan perdagangan Kamis (5/2/2026). Pada perdagangan sebelumnya, rupiah berada di posisi Rp 16.776 per dolar AS.

Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, sentimen eksternal memengaruhi pelemahan rupiah pada hari ini, mulai dari tensi geopolitik antara AS dan Iran hingga dinamika ekspektasi kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Fed).

“Sebuah laporan media menyebutkan bahwa pembicaraan yang direncanakan antara AS dan Iran pada Jumat dapat gagal. Namun, kemudian pada hari yang sama, para pejabat dari kedua pihak mengatakan bahwa pembicaraan akan tetap berlangsung meskipun topik yang akan dibahas belum disepakati,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Kamis (5/2/2026).

Ia menerangkan, hingga saat ini kedua pihak masih memiliki perbedaan pendapat yang besar mengenai agenda pembahasan. Iran terbuka untuk membahas program nuklirnya, termasuk pengayaan uranium, dengan negara-negara Barat. Sementara itu, AS juga ingin memasukkan isu rudal balistik Iran, dukungan terhadap kelompok proksi bersenjata di kawasan Timur Tengah, serta perlakuan pemerintah Iran terhadap rakyatnya sendiri.

“Terlepas dari pembicaraan yang akan datang, terdapat kekhawatiran bahwa Presiden AS Donald Trump masih akan melaksanakan ancamannya untuk menyerang Iran, yang berpotensi memicu konfrontasi lebih luas di wilayah kaya minyak tersebut. Selain kemungkinan gangguan produksi Iran jika terjadi konflik, ada pula kekhawatiran ekspor dari produsen Teluk lainnya akan terdampak,” ujarnya.

Selain itu, lanjut Ibrahim, percakapan positif antara Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping turut menjaga ketegangan antara Washington dan Beijing tetap mereda. Trump mengatakan telah melakukan percakapan telepon yang sangat baik dengan Presiden Xi.

Trump juga mengungkapkan rencana kunjungannya ke China pada April mendatang. Dalam pertemuan tersebut, kedua pemimpin disebut akan membahas isu perdagangan, militer, Taiwan, perang Rusia–Ukraina, Iran, serta pembelian minyak dan gas China dari AS.

Di luar sentimen geopolitik, ekspektasi kebijakan suku bunga The Fed juga memengaruhi pergerakan nilai tukar. Pasar mengantisipasi sikap bank sentral AS yang lebih hawkish dan independen di bawah kepemimpinan Kevin Warsh. Para pelaku pasar juga menurunkan ekspektasi penurunan suku bunga setelah jeda pemangkasan suku bunga pada Januari serta penunjukan Warsh.

“Pasar keuangan saat ini memperkirakan hampir 46 persen kemungkinan penurunan suku bunga pada pertemuan kebijakan Juni, berdasarkan alat CME FedWatch,” jelasnya.

Read Entire Article
Politics | | | |