REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebanyak 152 rumah di kawasan Lenteng Agung, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan, menjadi sasaran penggusuran oleh TNI AD sejak Selasa (9/6/2026). Pasalnya, seratusan rumah itu dianggap berdiri di atas lahan milik aset negara.
Salah satu warga yang terdampak penggusuran, Supri (60 tahun), mengaku bahwa proses itu sudah berjalan sejak 2024 ketika warga mendapatkan surat peringatan pertama (SP1) untuk mengosongkan rumah. Surat peringatan itu diberikan hingga tiga kali. Namun, warga tetap bertahan menempati rumah yang mereka huni sejak puluhan tahun terakhir itu lantaran tidak ada kompensasi dari TNI AD.
"Sebetulnya garis besarnya, masyarakat sebetulnya mau pindah jika ada uang tali asih, karena apa? Bangunan ini kan dari tahun 50-an. Otomatis kalau tidak diperbaiki yang menempati, akhirnya harusnya akan roboh kan," kata dia kepada Republika, Kamis (11/6/2026).
Menurut dia, hingga saat ini belum ada kompensasi layak yang diberikan oleh TNI AD. Padahal, kompensasi itu semestinya diberikan sebelum pembongkaran dilakukan.
"Tapi ini enggak ada, enggak ada sama sekali," kata dia.
Hingga akhirnya, pada Selasa (9/6/2026) pagi, ratusan tentara mendatangi kawasan yang merupakan eks asrama Yonzikon 15 itu. Tanpa adanya pemberitahuan, tentara meminta warga mengosongkan rumahnya.
Kedatangan para tentara itu tentu mendapatkan resistensi dari warga. Situasi menimbulkan ketegangan di antara warga dan tentara.
"Kemarin juga ada korban, dalam artian korbannya itu bukan korban karena ini, karena histeris. Karena mereka syok kan, ya. Ada yang habis operasi kemarin sampai pingsan beberapa kali di situ," kata anak pensiunan tentara mengisahkan kondisi para Rabu siang.
Supri mengakui, rumahnya berada di atas tanah milik negara. Karena itu, warga juga tak bisa terus bertahan di tanah itu. Namun, ia meminta pihak TNI AD bisa memberikan kompensasi kepada warga. Pasalnya, warga juga bingung hendak pergi ke mana setelah rumah mereka digusur.
"Saya sendiri dari lahir di sini. Kami itu harapkan adanya kompensasi yang layak. Seenggaknya, kami bisa beli rumah kecil," kata dia.
Supri mengaku sudah berupaya mencari rumah kontrakan untuk tempat hidup selanjutnya. Namun, ia masih bingung dengan masa depannya. Apalagi, saat ini tidak ada pekerjaan pasti di usia senjanya.
"Ya enggak tahu gimana. Pasrah aja," kata dia.

8 hours ago
10
















































