Rupiah dan Harga Minyak Tekan IHSG, Investor Lirik Emas

5 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih tertekan di tengah pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan harga minyak dunia. Kondisi ini membuat sebagian investor mulai melirik emas sebagai instrumen yang lebih aman.

Dalam sepekan terakhir, IHSG ditutup di level 7.026 atau melemah sekitar 0,99 persen. Pada saat yang sama, investor asing mencatatkan aksi jual bersih mencapai Rp 2,8 triliun di pasar reguler.

Tekanan datang dari kombinasi sentimen global dan domestik. Ketegangan geopolitik mendorong investor global menghindari aset berisiko, sementara dari dalam negeri, pelemahan rupiah memperbesar beban ekonomi.

Analis PT Indo Premier Sekuritas, David Kurniawan, mengatakan kondisi ini membuat pasar saham rentan terhadap tekanan jangka pendek. “Aset berisiko seperti saham di pasar berkembang, termasuk IHSG, kemungkinan besar akan terkena aksi jual jangka pendek,” ujarnya dalam keterangan dikutip Selasa (7/4/2026).

Rupiah yang sempat menembus Rp 17.000 per dolar AS meningkatkan biaya impor dan berpotensi memicu inflasi. Di sisi lain, harga minyak dunia yang tinggi juga berisiko membebani subsidi energi pemerintah jika bertahan di atas 100 dolar AS per barel.

Di tengah tekanan tersebut, emas kembali dilirik sebagai aset lindung nilai. Harga emas batangan produksi Antam terpantau berada di kisaran Rp 2,89 juta per gram pada perdagangan terbaru, mencerminkan minat investor terhadap instrumen yang lebih stabil.

Kenaikan minat terhadap emas menunjukkan sikap hati-hati investor ritel. Saat pasar saham bergejolak, sebagian masyarakat memilih memindahkan dana ke instrumen yang dinilai lebih aman.

Meski demikian, peluang tetap terbuka di pasar saham. Indo Premier Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham yang dinilai masih menarik dicermati, di antaranya STAA, UNVR, dan JPFA, seiring potensi katalis dari kebijakan domestik dan pemulihan permintaan.

Selain itu, instrumen reksa dana berbasis indeks sektor konsumsi juga dinilai layak diperhatikan secara bertahap di tengah pergerakan pasar yang masih fluktuatif.

David mengingatkan pelaku pasar untuk tetap mencermati pergerakan rupiah dan harga minyak dalam waktu dekat. “Kondisi ekonomi Indonesia saat ini sedang menghadapi ujian berat akibat kombinasi lonjakan harga minyak dunia dan pelemahan nilai tukar rupiah yang cukup drastis,” katanya.

IHSG diperkirakan masih bergerak terbatas dengan kecenderungan melemah. Dalam kondisi ini, masyarakat diimbau lebih selektif dalam menempatkan dana dengan mempertimbangkan risiko di tengah ketidakpastian pasar.

sumber : Antara

Read Entire Article
Politics | | | |